Kendal  

Sastrawan Madura Raedu Basha Angkat Sosok Kiai Sejati di Kendal

DISKUSI: Bedah buku di acara NgopiSastra#31 PSK di KopiSufi Brangsong, belum lama ini. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Sastrawan asal Madura, Raedu Basha, mengangkat sosok “kiai yang sebenarnya kiai” sebagai salah satu gagasan utama dalam bedah buku antologi cerpen Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas. Gagasan tersebut disampaikan dalam acara NgopiSastra#31 yang digelar Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) di KopiSufi, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, belum lama ini.

Raedu Basha yang juga antropolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pernah menjadi penulis terpilih Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) pada tahun 2015. Ia juga menerima Nusantara Academic Award 2019, serta Anugerah Sutasoma 2020.

Raedu Basha, yang memiliki nama asli Muhammad Badrus Shaleh Sibqi atau akrab disapa Lora Badrus, mengatakan karya-karyanya merupakan potret kehidupan di lingkungan pesantren.

“Melalui buku antologi ini, saya ingin mengingatkan publik pada sosok ‘kiai yang sebenarnya kiai’, menyoroti pergeseran nilai tabiat orang pesantren saat ini, sekaligus membudayakan tradisi menulis di kalangan santri,” ujarnya.

Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep dan Pondok Pesantren Sarang Rembang itu juga menyinggung fenomena menjamurnya toko kelontong Madura. Menurutnya, keberadaan toko-toko tersebut merupakan manifestasi keyakinan masyarakat Madura bahwa rezeki berasal dari kuasa Tuhan.

Diskusi menghadirkan akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan Universitas Terbuka, Zulfa Fahmy, serta penulis dan pegiat literasi, Widyanuari Eko Putra, sebagai pemantik.

Dalam paparannya, Zulfa Fahmy menyebut cerpen berjudul Ruang Tamu Kiai Dahol menjadi salah satu karya yang kerap dibahas mahasiswa pada Mata Kuliah Cerita Rekaan di Universitas Terbuka.

Menurutnya, mahasiswa menemukan kedekatan pengalaman dengan kisah yang ditampilkan dalam cerpen tersebut, terutama mengenai hubungan antara kiai dan masyarakat desa.

“Raedu sedang melakukan pembelaan estetik terhadap para kiai yang sunyi. Di luar lingkaran elite yang korup, masih ada kiai yang didasari kemurnian ilmu dan ketulusan spiritual, bukan syahwat politik atau materi,” kata Zulfa.

Ia menambahkan, tidak semua persoalan kemanusiaan dapat diselesaikan melalui pendekatan rasional. Persoalan tersebut juga dapat dipahami melalui pengalaman yang bersifat transenden.

Sementara itu, Widyanuari Eko Putra menilai benang merah dalam antologi Sepucuk Surat pada Selembar Daun Talas berkaitan dengan relasi antara institusi keagamaan, tokoh agama, dan kekuasaan.

“Meski demikian, saya memilih fokus pada substansi kritik kekuasaan itu sendiri,” terangnya. (ags/gih/rds)