KUDUS, Joglo Jateng – Penanganan stunting di Kabupaten Kudus mulai menunjukkan perkembangan menggembirakan. Melalui pendampingan intensif yang dilakukan secara rutin di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati pada Rabu (22/7/2026), sejumlah balita mengalami peningkatan pertumbuhan setelah mendapatkan edukasi gizi, pemeriksaan kesehatan, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani menegaskan, penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor.
“Kunjungan kali ini merupakan sampel dari enam balita yang mendapat pendampingan intensif. Dari enam anak yang didampingi, hari ini kami mengunjungi dua anak sebagai sampel. Sudah terlihat ada peningkatan dibanding sebelumnya,” katanya.
Salah satu balita yang dikunjungi, Felisia, masih menjalani terapi fisioterapi karena pada usia dua tahun belum dapat berjalan.
“Tidak hanya melihat berat badan, tetapi juga perkembangan anak sesuai usianya. Felis sudah mendapatkan jadwal fisioterapi rutin di rumah sakit agar perkembangan motoriknya lebih optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, perkembangan seluruh balita akan terus dipantau selama tiga bulan ke depan. Hasil selama pemantauan sudah mulai terlihat dari pemeriksaan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan yang menunjukkan perkembangan signifikan.
Sementara itu, Ketua IBI Kudus, Darini mengatakan, pendampingan tersebut merupakan salah satu program mendukung upaya pemerintah daerah menekan angka stunting. Dalam setiap kunjungan, para bidan memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pemenuhan gizi balita sekaligus melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
“Setiap kunjungan dilakukan pengecekan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan. Tujuannya untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan, terutama pada balita stunting,” kata dia.
Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. “Kami sangat mendukung program Pemerintah Kabupaten Kudus dengan memberikan pelayanan dan edukasi kepada balita stunting,” tambahnya.
Darini menjelaskan, pencegahan stunting paling efektif dilakukan sejak awal kehidupan, bahkan sejak masa kehamilan. Pihaknya tetap mengawal seribu hari pertama kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun agar tidak terjadi stunting.
“Ibu hamil dengan lingkar lengan atas kurang dari 23,5 sentimeter, mengalami anemia, atau kenaikan berat badan yang tidak sesuai selama kehamilan harus benar-benar mendapatkan perhatian karena menjadi faktor risiko stunting,” ungkapnya.
Hasil pendampingan menunjukkan adanya peningkatan kondisi pada sejumlah balita. Salah satunya Sabdo Pamungkas yang mengalami kenaikan berat badan dalam dua pekan terakhir.
“Kalau dibanding saat pertama ditemukan, sudah ada penambahan yang signifikan. Sabdo naik dari 10 kilogram menjadi 11,4 kilogram dalam dua minggu,” tuturnya. (uma/fat/rds)










