SEMARANG, Joglo Jateng – Kondisi alam Jawa Tengah sangat mendukung digunakan untuk beternak. Kendati demikian, minat masyarakat untuk menjadi peternak murni justru tergolong rendah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Lalu M Syafriadi mengatakan, rata-rata masyarakat Jawa Tengah menjadikan beternak sebagai aktivitas sambilan. “Masyarakat belum banyak yang betul-betul pure jadi peternakan, rata-rata untuk sambilan,” tutur Lalu, kemarin.
Di sisi lain, lanjutnya, hewan ternak yang ada masih kurang bervariasi jika ditilik dari luasan lahan yang dimiliki Jawa Tengah. Dari 6,8 juta ternak di wilayah Jawa Tengah, terdapat 1,8 juta ekor sapi dan 5 juta ekor kambing dan domba.
“Belum ada yang beternak monokultur, misalnya dari dulu ternak kambing saja,” ucapnya.
Menurutnya, kambing menjadi hewan yang paling banyak diternakkan karena tidak memerlukan lahan yang besar untuk memeliharanya. Selain itu, jika dibandingkan sapi, waktu berkembangbiak kambing lebih singkat. Kemudian, makanan kambing juga lebih mudah didapatkan dibanding sapi.
“Makanan kambing bisa dari pohon pohon. Kalau sapi cenderung lebih banyak, butuh waktu yang lama. Berdasarkan data terbanyak yang dibudidayakan di Jateng, pertama kambing dan domba kemudian sapi, kemudian babi. Tapi babi tidak termasuk ruminansia,” ujarnya.
Padahal, lanjutnya, jika membaca satuan unit ternak, Jawa Tengah masih kelebihan sekitar 2,1 juta unit lahan. Lalu juga menuturkan kesediaan pangan hewan ternak di Jawa Tengah mencukupi. Kemampuan sumber daya alam (SDA) masih sangat memungkinkan untuk budidaya ternak. (cr12/gih)










