Demak  

Harga Bawang Merah di Kabupaten Demak Anjlok

ILUSTRASI: Bawang merah dijajakan di salah satu kios pedagang di Pasar Kliwon, belum lama ini. (ANTARA/JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo Jateng – Menjelang panen raya, harga bawang merah kembali anjlok. Petani di Kabupaten Demak terancam paceklik. Sejak tahun 2020 hasil produksi tidak sesuai harapan. Sehingga dua tahun ini, hasil panen tidak bisa dinikmati secara maksimal.

Seorang petani bawang merah Desa Kunir, Dempet, Karto Diharjo (51) mengatakan, banyak orang di sini sudah waswas menyongsong panen raya bawang merah yang dijadwalkan beberapa pekan lagi. Jika harga bawang merah tetap anjlok, otomatis petani akan merugi.

Seharusnya, jika ingin kembali modal produksi, harga jual bawang merah dari petani ke pengepul per kilogram minimal Rp 15.000. Namun kenyataannya, pada hari-hari terakhir ini bawang merah super hanya dihargai pada kisaran Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram. Apalagi harga bawang merah kualitas di bawah super hanya sekitar Rp 4.000 sampai Rp 6.000 per kilogram.

“Kalau hasil panen bawang merah dihargai minimal Rp13.000 per kilogram, petani masih bisa bertahan. Namun sekarang harga beli bawang merah petik anjlok menjadi Rp 9000 per kilogram,” katanya melalui video yang diuanggahnya di media sosial, belum lama ini.

Ia mengaku syok dengan harga bawang yang anjlok. Sehingga membuat konten video tersebut dan dikirimnya ke media sosial dan viral. Aksi ini sebagai bentuk protes kepada pemerintah yang belum bisa mengintervensi fluktuasi harga bawang merah di pasaran, sehingga petani yang merugi.

“Tolong, pemerintah harus punya solusi,” tandasnya.

Petani bawang merah di Desa Kunir, Dempet yang lain Mustafid (53) mengungkapkan, jika sampai dengan panen raya harga bawang merah belum stabil, petani jelas akan menanggung rugi besar. Apalagi, modal budidaya bawang merah tersebut mereka dapatkan dari utang di beberapa bank.

“Modal sekitar Rp 300 juta, jika harga jual masih di bawah Rp 15.000 per kilogram maka kemungkinan hasil panen saya hanya dihargai sekitar Rp 100 juta. Ya, kami bisa terlilit hutang,” ungkapnya di Desa Kunir, Dempet, akhir pekan lalu.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM (Dindagkop UMKM) Iskandar Zulkarnain, belum bisa memberikan jawaban atas alasan kenapa harga bawang merah anjlok jelang panen raya ini. Tetapi pihaknya bersama Dinas Pertanian dan Pangan (Dinpertan) Demak serta instansi lain akan mengadakan rapat untuk menyelesaikan persoalan anjloknya harga bawang merah ini, khususnya di kalangan para petani. Rencananya, rapat akan diadakan Senin (1/11).

“Akan kami rapatkan segera. Akan segera kami cari tahu penyebabnya. Kami juga akan berupaya menyelesaikan turunnya harga bawang yang dialami oleh para petani,” ungkapnya saat dihubungi, kemarin. (aji/gih)