PURBALINGGA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga terus mengintensifkan program pengembangan produktivitas pertanian dan perkebunan lokal. Hal ini sebagai salah satu upaya pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.
Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi mengungkapkan, pengembangan produktivitas pertanian dan perkebunan ini dilakukan guna makin meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Khususnya para petani.
Kabupaten Purbalingga memiliki berbagai komoditas pertanian dan perkebunan yang menjadi unggulan di masing-masing kecamatan. Seperti kelapa, jagung, kubis, kentang, jeruk, lada, hingga kopi.
“Purbalingga memiliki berbagai varietas kopi yang potensial untuk terus dikembangkan. Contohnya di Kecamatan Karangjambu sudah menghasilkan satu produksi kopi sendiri. Ada kopi Sirandu, Jingkang, Sanguwatang, Karangjambu, Purbasari, dan lain-lain,” terangnya, Rabu (15/12).
Produktivitas tanaman kopi di Purbalingga sangat potensial untuk terus dikembangkan. Hal ini juga didukung dengan semakin banyaknya pelaku bisnis kopi.
“Kopi Purbalingga memiliki potensi yang bagus. Pelaku bisnis kopi di Purbalingga cukup berkembang. Saat ini ada 52 tempat kedai atau warung kopi dan ada 38 merek kopi kemasan dari Purbalingga,” bebernya.
Pemkab Purbalingga terus membantu memfasilitasi promosi dan pemasaran agar produk unggulan kopi di Purbalingga terus berkembang. Salah satu upayanya adalah dengan menyelenggarakan festival kopi guna menggeliatkan kembali perekonomian lokal di tengah pandemi Covid-19.
“Kami juga mengajak seluruh pihak terkait termasuk komunitas untuk ikut berperan aktif dalam upaya pengembangan produk pertanian dan perkebunan di Purbalingga, khususnya kopi sebagai salah satu produk unggulan,” lanjutnya.
Selain itu, pihaknya juga mengajak seluruh petani dan pelaku usaha untuk terus meningkatkan upaya promosi dan pemasaran produk pertanian dan perkebunan. Baik secara konvensional maupun digital.
“Hal tersebut diperlukan sebagai salah satu upaya untuk menyesuaikan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi,” tungkasnya. (ara/ern)










