Sate Tusuk Jeruji, Kuliner dengan Cita Rasa Berbeda

Sate klatak, Kuliner khas Yogyakarta. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

Pada umumnya, penggunaan tusuk sate berbahan dari bambu. Namun berbeda dengan sate klatak, yang menggunakan besi jeruji sebagai tusuknya.

BANTUL, Joglo Jogja – Berkunjung ke Yogyakarta nampaknya kurang sempurna jika tidak mencicipi kuliner khas Kota istimewa ini. Sate klatak menjadi salah satu rekomendasi makanan yang identik denganYogyakarta.

Berbeda dengan sate pada umumnya, sate khas Jogja ini tidak menggunakan bambu sebagai tusuknya. Sate ini menggunakan jeruji besi sepeda, sebagai tusuk daging dalam membakarnya.

“Bukan tanpa alasan, penggunaan jeruji sepeda dipercaya dapat menghantarkan panas dengan baik. Sehingga daging dapat matang dengan sempurna,” ungkap Bari, salah satu penjual sate klatak.

Tak hanya itu, lanjutnya, bumbu sate klatak juga sangat sederhana. Tidak menggunakan bumbu kecap atau kacang. Cukup garam yang ditaburkan pada daging kambing muda ini. Bumbu ini menonjolkan cita rasa daging kambing yang empuk dan gurih.

Warung sate klatak yang ia kelola diperkirakan sudah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Secara turun temurun, usaha ini terus berlanjut hingga generasinya saat ini.

“Saya merupakan generasi ketiga dari Mbah Ambyah, pelopor sate klatak di Bantul. Mbah Ambyah diketahui sudah berjualan sebelum kemerdekaan. Sepeninggal Mbah Ambyah, usaha sate dilanjutkan oleh ayah Subari, Wakidi. Hingga akhirnya sejak tahun 1992 dilanjutkan Subari,” lanjutnya.

Keberadaan sate klatak semakin eksis disetiap zamannya. Apalagi dengan munculnya sate klatak di scene film Ada Apa Dengan Cinta 2. Dari situ, kemudian banyak bermunculan penjual sate klatak.

Terakhir ia menceritakan, nama klatak memiliki cerita khusus. Dimana pada awalnya, sate tersebut dijual di bawah pohon melinjo. Dimana buahnya disebut dengan Klatak.

“Klatak inilah yang banyak berjatuhan di tempat Mbah Ambyah berjualan sate. Pada akhirnya, sate ini pun diberi nama sate klatak,” pungkasnya. (fif/bid)