Demak  

Dinas Lingkungan Hidup Demak Gencarkan Sosialisasi Peduli Sampah

KOTOR: Sampah menumpuk di pinggir Jalan Raya Onggorawe Kabupaten Demak, belum lama ini. (LU'LUIL MAKNUN /JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo Jateng – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Demak dalam rangka menjaga kebersihan Kabupaten Demak terus melakukan upaya-upaya menangani sampah yang ada. Salah satunya dengan membangun bank-bank sampah dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Agus Musyafak menyampaikan, pihaknya terus gencarkan upaya-upaya menekan sampah mulai dari sumbernya. Selain itu, pihaknya juga terus menggiatkan beberapa aktivitas kebersihan yang diperuntukkan kepada masyarakat.

“Kita upayakan semaksimal mungkin timbunan sampah mulai dari sumbernya, dimana sumbernya dari sampah rumah tangga. Dengan cara kita mulai perlakuan di situ, pemilahan dari sumbernya. Kita menggiatkan bank sampah di Kabupaten Demak kurang lebih sudah ada 60 yang aktif. Kita juga selalu memberikan edukasi kepada masyarakat melalui sosialisasi,” ungkapnya.

Agus menambahkan, selain sosialisasi kepada masyarakat, pihaknya juga menargetkan untuk membersihkan timbunan sampah-sampah yang ada di pinggir jalan di wilayah Kabupaten Demak. Dirinya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan sampah di lingkungan sekitarnya.

“Agar masyarakat sadar akan sampah yang ada di lingkungan sekitarnya, karena sampah ku tanggung jawab ku. Itu selalu ingin kita tanamkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Salah satu target Dinas Lingkup Hidup adalah pinggir jalan raya Onggorawe, Kecamatan Sayung, Demak, yang telah menjadi tempat pembuangan sampah sekian lama oleh masyarakat. Bau tak sedap tercium dari lokasi pinggir jalan alternatif jalur Pantura Demak-Semarang tersebut.

Sementara itu seorang pedagang es tebu yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi pembuangan sampah, Nur Soni, mengatakan dirinya kerap menyaksikan orang membuang sampah di lokasi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pelaku pembuang sampah di tempat tersebut bukanlah warga sekitar melainkan masyarakat yang melewati jalur tersebut.

“Kadang ada pedagang, bawa krombongan itu berhenti di situ, buang sampah di situ. Tidak siang, tidak malam. Saya sempat melihatnya sendiri. Kadang sampah itu juga ada yang membakar di lokasi itu. Tapi orang yang bakar dan buang sampah banyak yang buang. Kadang saat akan dibakar semalaman hujan, sehingga basah. Akhirnya tidak bisa dibakar,” terangnya. (cr3/gih)