Oleh: Ikhsan Adi Uripto, S.Pd.Jas
Guru Penjasorkes SMP Negeri 7 Pemalang, Kabupaten Pemalang
PENDIDIKAN Jasmani merupakan suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan, perilaku hidup sehat, sikap sportif, dan kecerdasan emosi (Samsudin, 2008:2). Pelaksanaan mata pelajaran Pendidikan Jasmani merupakan sebuah investasi jangka panjang dalam upaya peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia di bidang olahraga, di mana diharapkan mendapatkan bibit-bibit unggul dari siswa yang berpotensi, di samping membina siswa dalam aspek kesegaran Jasmani. Aspek-aspek Pendidikan Jasmani sendiri meliputi permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, aktivitas senam, aktivitas ritmis, aktivitas air (renang), pendidikan luar kelas, dan kesehatan.
Aktivitas Renang baik untuk melatih fisik, nafas, mental, dan emosional. Latihan fisik berenang dilakukan dengan menggerakkan otot lengan, leher, perut, pinggul, paha, tungkai, dan kaki. Teknik pernafasan renang bisa mengurangi dampak dari penyakit asma. Renang banyak melatih menarik nafas secara penuh, melatih otot pernafasan karena harus menghembuskan nafas dengan tenaga ekstra ketika hidung dan mulut dalam posisi di bawah permukaan air. Renang merupakan salah satu pembelajaran dalam kurikulum Pendidikan Jasmani.
Pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu peserta didik agar dapat menerima pengetahuan yang diberikan dan membantu memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran (Suprihatiningrum, 2016: 75). Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran antara lain pendidik, peserta didik, materi, dan tenaga lainnya (sarana dan prasarana), seperti kolam renang, papan luncur, dan pelampung. Dari unsur-unsur tersebut, guru Pendidikan Jasmani merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam ketercapaian keberhasilan pembelajaran. Maka dari itu, guru Pendidikan Jasmani harus mempunyai kemampuan dan keterampilan yang cukup agar pembelajaran renang dapat tersampaikan kepada peserta didik terutama dapat meningkatkan minat belajar renang.
Diperlukan suatu cara atau metode yang mendukung terciptanya pembelajaran yang kondusif, menyenangkan bagi siswa, dan semangat yang tinggi. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, pelaksanaan proses pembelajaran renang masih terlihat kurang inovatif. Pembelajaran dilaksanakan secara monoton dengan metode pembelajaran yang kurang bervariasi, dan model penerapan media pun sangat minim. Oleh karena itu, perlu ada perubahan dengan menciptakan suasana belajar yang gembira dalam nuansa bermain, agar mereka dapat mengikuti pembelajaran dengan senang dan mengasyikkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penerapan metode pembelajaran Discovery Learning.
Model pembelajaran Discovery Learning merupakan sebuah teori pembelajaran yang diartikan sebagai bentuk proses belajar yang terjadi, di mana siswa tidak disuguhkan pelajaran dalam bentuk akhir, tetapi diharapkan untuk mengorganisasikan sendiri. Bahan pelajaran atau materi yang hendak diberikan tidak disampaikan seutuhnya. Sebagai gantinya, siswa akan didorong untuk menganalisis apa yang ingin dicari, kemudian peserta didik mencari bentuk akhirnya.
Model pembelajaran Discovery Learning yang dilaksanakan dalam pembelajaran renang menuntun siswa untuk menjadi anak yang berpikir aktif dan mempunyai keinginan untuk menemukan hal yang baru dalam pembelajaran. Proses ini dikemas dalam bentuk bermain yang merangsang peserta didik untuk berani dan merangsang peserta didik untuk menggerakkan lengan kakinya. Sehingga tanpa sadar, melalui bermain ini akan membuat peserta didik merasa senang serta mempunyai keinginan lebih untuk melakukan gerakan tersebut kembali. Penerapan model pembelajaran Discovery Learning secara konsisten akan mampu menciptakan suasana belajar yang inovatif dan kreatif, sehingga dapat membangkitkan semangat dan meningkatkan keterampilan berenang.
Pada siswa-siswi kelas VIII SMP Negeri 7 Pemalang Tahun Pelajaran 2021/2022, setelah menerapkan metode pembelajaran Discovery Learning siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran renang, siswa lebih cepat paham materi yang ingin dicapai, siswa lebih disiplin mengulang-ulang gerakan saat pembelajaran, dan siswa dalam menyelesaikan instrumen penilaian banyak yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sehingga dapat disimpulkan bahwa di SMP Negeri 7 Pemalang minat belajar renang dapat ditingkatkan dengan menggunakan metode Pembelajaran Discovery Learning. (*)









