PEREMPUAN di zaman dahulu seringkali dipandang sebelah mata dan memiliki ruang gerak yang terbatas hanya dalam wilayah pekerjaan rumah saja. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, budaya patriarki perlahan mulai mengikis.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan paradigma masyarakat, membuat perempuan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Ia berhak menentukan pilihan dan jalan hidupnya sendiri. Laki-laki dan perempuan mestinya setara.
Dalam rangka menunjukkan kesetaraan gender itu, Laila Fajrin Rauf membuktikan bahwa perempuan mampu tampil di depan publik dan berpendidikan tinggi. Mahasiswi aktif di program magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu juga aktif di berbagai organisasi. Di antaranya Jaringan Gusdurian Yogyakarta, Duta Damai Yogyakarta, dan Griya Riset Indonesia.
Menurut Ubay, panggilan akrabnya, perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki dan memiliki ruang bebas untuk mengembangkan dirinya. Apalagi di era digital saat ini, media sosial membuka peluang bagi siapa pun untuk mengembangkan skill melalui platform yang tersedia.
Paradigma atau cara berpikir ini pulalah yang ingin ditanamkannya. Dengan mendirikan komunitas Feministic pada 2021 lalu, Ubay mengajak dan menghimpun perempuan milenial untuk memberdayakan diri. Lewat komunitas itu pula, dara asal Jepara ini aktif menyuarakan isu seputar kesetaraan gender di media sosial.
“Hampir setiap hari saya membersamai teman-teman mengembangkan pengetahuan soal isu perempuan dan perdamaian. Komunitas gerakan kolektif perempuan ini adalah ruang aman dan nyaman bagi siapapun yang ingin belajar, berkarya dan berdaya secara kolektif,” ungkapnya.
Perempuan yang gemar membaca buku ini sering menyalurkan gagasannya melalui karya tulis berupa esai populer yang diterbitkan di situs Mubadalah.id. Selain itu ia juga menulis jurnal ilmiah dan menjadi kontributor buku “Pendidikan Ideal untuk Mempersiapkan Generasi Emas Indonesia”. Aktivitas menulisnya ini menunjang kesukaannya terhadap kajian keperempuanan.
“Ada yang menyuarakan perjuangan ini melalui kampanye di media sosial, misal membuat konten tulisan dan semacamnya. Tidak ada pilihan yang salah atau lebih baik. Semua pilihan yang diambil untuk menyuaran isu perempuan ini layak dihargai dan dilakukan,” kata perempuan berusia 26 tahun itu.
Melawan rasa takut saat tampil di depan publik dan menyuarakan kesetaraan gender ialah benturan yang ketika dilawan akan membentuk pribadi menjadi lebih percaya diri. Kalimat terkenal Tan Malaka yang berbunyi, “Terbentur, terbentur, terbentur, maka akan terbentuk”, menjadi prinsip yang diyakini Ubay akan membuatnya lebih berkembang.
“Kalau kata Stephen Covey juga, kita adalah bentukan dari pilihan-pilihan yang kita ambil, bukan bentukan dari keadaan. Berani speak up tentang isu perempuan adalah pilihanku secara sadar,” kata perempuan yang pernah menjabat Ketua HMJ PGMI UIN Walisongo Semarang tahun 2017 itu.
Ubay menceritakan, ada dua tokoh luar biasa yang karya dan pemikirannya membentuk pola pikirnya saat ini. Pertama yaitu Ibu Nyai Dr. Nur Rofiah yang memiliki buku berjudul Nalar Kritis Muslimah. Di mana dalam buku itu kesetaraan gender dituangkan dengan amat humanis.
Kedua yaitu karya dan pemikiran Nawal El Sadawi, aktivis gender dan novelis asal Mesir. Buku Perempuan di Titik Nol berhasil memberikan gambaran bahwa sistem patriarki yang membelenggu perempuan tidak boleh dibiarkan.
“Dari dua tokoh ini saya belajar tentang bagaimana membangun cara pandang dan keterbukaan pada situasi dan kondisi yang ada. Melawan berbagai diskriminasi perempuan melalui cara-cara yang manusiawi dan landasan kognitif yang memadai. Serta tetap teguh bersikap untuk menyuarakan isu gender dan perempuan,” tegas Ubay.
Perempuan tidak perlu takut ataupun malu untuk tampil di depan publik. Perempuan juga harus berani mengambil keputusannya sendiri tanpa adanya intervensi orang lain. Rasa insecure adalah benturan yang harus dilawan agar dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas.
“Sehingga keputusan dalam dirinya bukan karena keterpaksaan, tekanan, atau ketergantungan tapi atas dasar kesadaran dan kendali penuh. Hal ini akan melatih kedewasaan dalam mengatasi berbagai masalah dan situasi dalam hidup,” imbuhnya. (luk/gih)










