Meningkatkan Keterampilan dan Jiwa Kompetisi Peserta Didik melalui Model Sport Education

Oleh: Drs. Supriantono Setyo Budi, M.Pd
Guru Penjasorkes SMP Negeri 1 Demak

PROSES pembelajaran saat ini masih banyak yang dilakukan secara konservatif. Konservatif disini dimaksudkan adalah banyak dari pendidik kita pada saat mengaplikasikan penerapan pembelajaran pendidikan jasmani, masih terpusat pada apa yang menjadi pengetahuan dari pendidik, kemudian disalurkan kepada anak didiknya.

Sebaliknya model sport education, lebih berorientasi pada keterlibatan peserta didik secara langsung (student centered). Model pembelajaran ini telah terbukti mampu mengembangkan berbagai aspek jasmani peserta didik baik itu aspek keterampilan gerak atau lokomotorik. Kemudian keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, daya nalar, kesatabilan emosi, moralitas. Lalu pola hidup yang lebih sehat, serta pengenalan terhadap lingkungan bersih yang dilakukan melalui aktivitas dalam pendidikan jasmani.

Sport education menjadi hal yang diyakini mampu melibatkan peserta didik secara langsung. Model sport education merupakan model yang telah teruji mampu membawa dampak baik di Amerika, dimana negara pertama yang menerapkan model pembelajaran ini. Namun juga terbukti manakala Indonesia mengadopsi model pembelajaran ini, nyatanya membawa hasil yang baik. Sehingga kedepannya banyak sekolahan SMP di seluruh Indonesia yang juga mengadopsi model pembelajaran  sport education. Termasuk juga ketika di terapkan di SMP 1 Demak.

Model SE atau sport education pada awalnya nama yang diberikan adalah play education (Jewett dan Bain, 1985) yang kemudian dikembangkan oleh Siedentop (1995). Model ini diperkenalkan pertama kali pada Commonwealth Games Conference di Brisbane Australia (Siedentop, 2002). Siedentop (1998) mengatakan bahwa “SE is a curiculum and instruction model designed to provide authentic, educationally rich sport experiences for girls and boys in the context of school physical education”. Yang bisa kita maknai bahwa model pembelajaran ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung secara nyata peserta didik terlibat langsung dalam aktivitas olahraga untuk disesuaikan dengan konteks pendidikan jasmani di sekolah. Selain di Australia (Alexander, dkk. 1998), model ini sudah banyak diadopsi sebagai kurikulum pendidikan jasmani di Selandia Baru (Grant, 1992), Inggris (Wallhead & Ntoumanis, 2004), dan Korea (Kim, dkk., 2006).

Tujuan utama dari model sport education adalah mengembangkan sifat-sifat olahragawan yang baik. Penerapan sport education memiliki pendirian bahwa olahragawan yang baik tidak hanya terampil dan memiliki pengetahuan luas saja. Namun juga mereka mampu memegang teguh pada nilai-nilai  fair play dan kompetisi yang adil dan senantiasa menjaga nilai-nilai tersebut.

Nilai rujukan dalam model pembelajaran olah raga ini dititik beratkan pada penguasaan materi, dan yang menjadi acuan serta pedomannya ada pada model kurikulum sport socialization. Pemikiran Siedentop untuk model ini telah dibahas secara terperinci dalam karya bukunya yang berjudul Quality PE Through Positive Sport Experiences: Sport Education.

Dalam pemikiran Siendtop, penelitian yang dilakukan didasari dari pengalamannya dalam praktek selama ini jika dalam mata pelajaran  pendidikan jasmani peserta didik maupun pendidiknya sangat senang dalam pelaksanaannya. Namun value atau nilai-nilai dari pelaksaan peserta didik dalam menerima materi ini untuk mengasah ketrampilan tertentu dalam pendidikan olahraga sering kali terabaikan.

Hal ini semata-mata karena dalam praktek pelaksanaannya, pendidik seringkali memisahkan antara teori teknik-teknik olah raga dengan praktek langsung dilapangan yang merupakan pengaplikasian bentuk sebenarnya dari olahraga tersebut. Hal ini lah yang pada akhirnya nilai-nilai penting dari olah raga ini menjadi hilang.

Maka dengan mengadosi sport education, harapan kedepannya mampu mengatasi kekurangan dari penerapan proses pembelajaran pada masa lalu yang sering digunakan oleh guru dalam melakukan pengajaran sebelumnya. Sehingga harapan kedepannya pendidikan jasmani mampu meningkat kualitasnya dan hasilnya bisa dirasakan. (*)