Semarang, joglojateng.com – Program sekolah virtual yang diiniasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, telah berjalan pada dua sekolah rintisan, yakni di SMAN 3 Brebes dan SMAN 1 Kemusu Boyolali. Dengan menargetkan 30 persen pembelajaran tatap muka, 70 persen pembelajaran virtual. Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Syamsudin Isnaini, Kamis (12/11).
“Maksimal nanti hanya 30 persen saja yang tatap muka. Lainnya, dengan cara sekolah virtual,” tuturnya.
Menurut Syamsuddin, pembelajaran tatap muka dilakukan untuk mengumpulkan siswa kelas virtual. Seperti halnya saat pertemuan awal, siswa kelas virtual dikumpulkan terlebih dulu agar mendapatkan penjelasan materi. Misalnya, soal penjelasan buku modul dan hal terkait lain pada kelas virtual. “Nanti pada saat akan kenaikan kelas atau ujian, juga akan ketemu lagi,” terangnya.
Ia juga mengatakan, bahwa pembelajaran dengan metode tatap muka yang dapat dilakukan 30 persen di kelas virtual diarahkan untuk pengenalan lingkungan, metode pembelajaran, bimbingan konseling, tugas laboratorium, dan lainnya. Karena sifatnya memang harus dilaksanakan secara tatap muka. Dalam artian, kelas virtual tetap pada konsep awal dengan pembelajaran berbasis IT.
Syamsudin menuturkan, sementara ini sekolah virtual masih sebatas dilakukan di Brebes dan Boyolali sampai pada penghabisan tahun ajaran 2020/2021. Dengan demikian, sekolah virtual belum bisa dibuka di sekolah lain lagi sampai pada tahun ajaran baru berikutnya.
“Di tengah jalan buka sekolah lagi, kan enggak bisa. Nanti bila ada PPDB lagi, kebijakannya mau berapa, kan. Nanti akan dikaji,” terangnya lebih lanjut.
Sementara ini, sekolah virtual telah diikuti 72 siswa. Atau masing-masing sekolah diikuti 36 siswa. Sejauh ini, siswa dari keluarga kurang mampu merasa terbantu dengan sekolah virtual. “Dari sisi akses, (sekolah virtual) diutamakan untuk anak didik dari keluarga kurang mampu. Program ini kan sangat bermanfaat,” sambungnya.
Angka anak tidak sekolah karena permasalahan biaya, tercatat di Jawa Tengah mencapai sekitar 45 ribu. Dengan adanya kelas virtual, cukup membantu anak-anak tersebut bisa meneruskan sekolahnya.
Meski demikian, tidak hanya sekolah virtual yang menjadi satu-satunya program mengurangi angka putus sekolah. Tapi juga ada peran sekolah swasta. “Dari sekolah swasta mau memfasilitasi meringankan beban anak sekolah,” pungkasnya. (cr2/yos)










