Pengelola Igir Kandang Harapkan Bantuan Pemerintah

  • Bagikan
objek wisata Igir
ASRI: Seorang pengunjung sedang menikmati objek wisata Igir Kandang di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Rabu(7/4). (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Obyek wisata alam Igir kandang yang terletak di Kecamatan Pulosari sempat viral pada akhir tahun lalu karena menyajikan pemandangan Gunung Slamet. Sitem pengelolaan yang belum baik membuat tim pengelola tempat tersebut kewalahan dan tidak mampu mengatur dengan baik. Sehingga, pemerintah daerah diharapkan mampu memberi perhatian agar tempat tersebut terkelola dengan baik dan profesional.

Heri salah satu pengelola wisata Igir Kandang mengatakan, saat mulai ramai dikunjungi wisatawan, lokasi tersebut belum memiliki fasilitas yang memadai. Sehingga, ia berharap pemerintah daerah mampu memberikan bantuan yang lebih untuk mengelola wisata alam itu melalui program unggulan bupati, yakni desa wisata (Dewi).

“Sebenarnya pengembangan awal kita baru buka lahan, kebetulan sudah viral, jadi baik kepala desa maupun pengelola masih kesulitan karena belum siap sepenuhnya,” katanya kemarin.

Ia melanjutkan, secara resmi obyek wisata ini memang belum buka, namun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pemalang sudah memberi dukungan kepada desa ini, mengingat Kecamatan Pulosari telah dinobatkan sebagai kecamatan wisata. Sebelumnya, pemkab telah memberikan ratusan tanaman untuk konservasi lingkungan di wilayah tersebut.

“Semoga di tahun ini kami juga bisa mendapatkan bantuan keuangan dari pemerintah daerah untuk pengembangan wisata,” katanya.

Baca juga:  Semangat Juang Melawan Pandemi

Sementara itu, Kepala Desa Clekatakan Sutrisno mengatakan, saat ini pengelolaan wisata ini masih ada di pemerintahan desa. Nantinya pengelolaan ini akan di serahkan ke badan usaha milik desa (BUMDes) karena sesuai regulasi yang ada bahwa setiap usaha milik desa harus masuk ke BUMDes.

Sutrisno mengaku, beberapa minggu ini wisata Igir Kandang mengalami penurunan yang sangat drastis dibanding dengan saat viral pada akhir tahun lalu. Saat itu, terdapat 3.000 hingga 5.000 orang pengunjung, tapi saat ini berkurang sampai 90 persen.

Ia berencana membuka peluang bagi para investor untuk membantu pengembangan dan perawatan wisata. Menurutnya, pemeliharaan wisata itu sangat susah sehingga perlu investor yang secara otomatis akan ikut memelihara tempat wisata tersebut. Baik pemerintah desa, pemuda maupun pegiat wisata menurutnya sudah saling bahu-membahu mengembangkan wisata ini, tinggal nantinya pemeliharaan dan sarana prasarananya yang perlu di tingkatkan.

“Apalagi dengan mayoritas pengelola wisata yang menjadi petani, turunnya pengunjung menjadikan pemasukan hanya bisa digunakan untuk gaji pengelola,” tuturnya.(cr1/akh)

  • Bagikan