Kerajinan Bambu Miliki Nilai Kearifan Lokal

Kerajinan Bambu
JUALAN: Iwan saat berada di lapaknya sedang menunggu pembeli, Kamis (15/4). (AFIFUDIN / JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng— Meski zaman sudah semakin modern, namun kerajinan bambu hingga saat ini mulai sepi di pasaran. Selain membawa pesan kesederhanaan, kerajinan bambu memiliki nilai kearifan lokal tersendiri yang unik.

Iwan Setiawan (42), salah satu pengrajin bambu mengatakan, alasan ia tetap bertahan menjadi pengrajin bambu adalah karena nilai kearifan lokal yang ingin ia jaga. Mengingat ia dilahirkan dilingkungan pedesaan.

“Kalau orang desa itu identik dengan pemanfaatan alam sekitar, nah bambu menjadi salah satunya. Tapi tidak jarang orang kota yang beli kok, mungkin karena ingin nuansa tradisional dirumahnya,” kata Iwan.

Bertempat di samping Jalan Raya Randudongkal-Moga, atau lebih tepatnya di Desa Kecepit, Iwan biasa menjajakan dagangannya di pinggir jalan dengan harapan ramai pembeli. Berbagai  produk kerajinan bambu itu meliputi saung bambu, gazebo, lesehan bambu, kandang ayam, kursi, dan lainya.

Namun akhir-akhir ini, Iwan merasa produknya masih sepi pembeli. Padahal sudah jarang pengrajin bambu sehingga secara persaingan tidak terlalu besar. “Kalau jualan gini tidak tentu, kalau lagi sepi bisa sepi berhari-hari, tapi sekalinya ramai, ramai sekali,” lanjutnya.

Semua produk buatannya menggunakan bahan dasar bambu yang ia dapatkan dari petani bambu di desanya. Ia berharap, usahanya bisa terus berkembang tidak hanya menjajakan dagangannya di pinggir jalan, melainkan bisa punya toko tersendiri.

“namanya harapan ya mas, ya tentunya pengin lebih maju dan berkembang, syukur-syukur bisa punya lahan dan toko sendiri, jadi tidak perlu dagang dipinggir jalan,” pungkasnya. (cr1/fat)