Angka Putus Sekolah di Pemalang Masih Tinggi

  • Bagikan
Siswi salah satu sekolah di Kabupaten Pemalang
TEKUN BELAJAR: Siswi salah satu sekolah di Kabupaten Pemalang sedang fokus mempelajari materi yang diberikan. (UFAN FAUDHIL / JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Menurut perhitungan data dari Badan Pusat Statistik Pemalang pada tahun 2020 yang dihitung berdasarkan Angka Partisipasi Kasar (APK), dan Angka Partisipasi Sekolah (APS) menunjukkan anak yang putus sekolah di daerah tersebut. Menurut dinas sosial (Dinsos) setampat, pola asuh menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi.

Manager Kasus Perlidungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos Pemalang Muh. Tarom mengatakan, dari APK yang telah dihitung nya ada sebanyak 24.000 kasus anak putus sekolah tingkat SMA/SLTA dan ditingkat SMP ada 7.233 kasus. Untuk perhitungan APS sesuai dengan tingkatan umur dari tujuh sampai 12 tahun ada 441 kasus, 13 sampai 16 tahun terdapat 5.108 kasus dan 16 sampai 18 tahun 28.351 kasus jika dijumlah ada 33.900 kasus.

“Biasanya mereka memilih tidak melanjutkan dengan alasan keadaan ekonomi dan tidak mampu menerima materi pembelajaran,” katanya Senin (3/5).

Menurutnya, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi anak putus sekolah, yakni ekonomi, edukasi mind dan pola asuh. Namun, faktor ekonomi bukan lah alasan utama anak-anak tidak dapat melanjutkan sekolah.

Baca juga:  Ganjar Pranowo Gagas Sekolah Virtual

Ia menjelaskan, Edukasi Mind merupakan pemikiran dari masyarakat yang melihat, pendidikan bukanlah hal yang penting. Hal ini sering terjadi di daerah yang terdapat orang dengan pendidikan tinggi namun tidak memiliki pekerjaan.

“Pola asuh ini sejatinya orang tua ingin anak mereka bisa bersekolah di tempat yang bagus namun tidak melihat keinginan atau pun tingkat kecerdasan ketika anak bersekolah, di tempat dengan pola kurikulum yang tinggi dan kecerdasan mereka tidak sanggup menerimanya maka, akan terjadi kasus anak tidak mau bersekolah,” jelasnya.

Ia berharap, para orang tua mampu melihat potensi yang ada pada diri anak mereka masing-masing karena setiap anak memiliki keistimewaannya sendiri. Selain itu, kasus seperti ini dapat terus berkurang dan anak-anak dapat terus melanjutkan pendidikan.(cr8/akh)

  • Bagikan