KENDAL, Joglo Jateng – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meminta penyintas Covid-19 untuk tidak ragu mendonorkan plasma konvalesen. Sebab melihat naiknya kasus Covid-19, kebutuhan plasma konvalesen juga meningkat.
Gus Yasin, sapaan akrabnya, menilai banyak penyintas Covid-19 yang masih ragu untuk mendonorkan darahnya. Hal itu dikarenakan mereka khawatir dengan kondisi kesehatannya.
“Masyarakat itu masih punya gambaran, saya kan baru sembuh. Kenapa saya harus mendonorkan darah? Bagaimana dengan kesehatan saya? Nah ini perlu kita sampaikan bagaimana efek (donor plasma konvalesen) ketika kita setelah sembuh,” paparnya saat Pelantikan Dewan Kehormatan dan Pengurus PMI Kabupaten Kendal Masa Bakti 2021-2026, di Gedung Abdi Praja Setda Kendal, kemarin.
Gus Yasin berharap, PMI bisa ikut mengatasi masalah itu dengan memberikan edukasi tentang donor pada masyarakat. Menurutnya, selama ini pihak yang mudah mendonorkan plasma konvalesen adalah penyintas Covid-19 dari kalangan TNI/ Polri, dan pondok pesantren.
Pondok-pondok pesantren di Banyumas, lanjutnya, cukup membantu penyediaan plasma konvalesen. Ia beralasan, sistem hubungan atasan-bawahan di militer dan murid-guru di pesantren yang penuh kepatuhan, menjadi faktor yang mempermudah.
“Yang paling mudah untuk kita mintai donor plasma, dari TNI/ Polri. Yang kedua, ponpes. Karena bagaimana pun juga, di pondok pesantren kalau kiai sudah perintah, perintahnya sama dengan jenderal,” tutur pria yang juga menjadi Dewan Kehormatan PMI Jawa Tengah itu.
Gus Yasin mengatakan, sejak pandemi Covid-19 terjadi sekitar Maret 2020 lalu hingga sekarang, PMI Jawa Tengah mendapatkan permintaan plasma konvalesen dari masyarakat sebanyak 11.197 kantong. Permintaan itu dapat terpenuhi sebanyak 10.136 kantong atau sekitar 91 persen. Pendonor berasal dari Kota Surakarta, Kota Semarang dan Kabupaten Banyumas.
Sementara itu, Humas Unit Donor Darah PMI Banyumas, Nashir menyampaikan, untuk mendapatkan plasma darah konvalesen dari santri penyintas Covid-19, pihaknya berkomunikasi dengan Bupati Banyumas, Forum Komunikasi Pondok Pesantren Banyumas, pengasuh pondok dan MUI setempat.
“Secara teknis ponpes-ponpes kita datangi, ketemu dengan pengasuhnya, menyampaikan tujuannya, kebutuhan plasma seperti apa. Intinya untuk memberikan edukasi kepada pengasuh, sehingga mau untuk membantu PMI. Setelah itu, membuat jadwal sosialisasi,” jelasnya.
Sembari sosialisasi, dilakukan pemeriksaan atau screening kepada para santri penyintas Covid-19. Pemeriksaan yang dilakukan antara lain meliputi pengecekan gejala, berat badan, dan tensi. Bagi santri yang hasil pemeriksaannya memenuhi syarat, diambil sampel darahnya.
“Setelah hasil sampel darah keluar, kita koordinasi lagi dengan pengasuh pondok pesantren untuk menentukan jadwal pengambilan darah secara bergilir,” ucapnya. (hms/gih)










