UMKM  

Berdiri sejak 1973, Ena Terus Pertahankan Jajanan Jadul

HASIL: Ena menunjukkan produk jajanan jadul miliknya, baru-baru ini. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

Tak banyak jajanan jadul bisa dilestarikan hingga sekarang. Tapi karena jadulnya itu, bisa jadi menjadi makanan yang dicari sama orang.

MISNAENA merupakan generasi kedua dari produk jajanan jadul Jeni NS. Jajanan jadul yang sudah ada sejak tahun 1973 ini masih terus ia pertahankan sampai saat ini. Jajanan ini memiliki tiga macam pilihan, diataranya adalah kue satelit, kue bintang dan kue wijen manis.

“Saya generasi kedua dari bapak saya, bapak saya almarhum tahun 2010 baru digantikan oleh saya. Sudah berdiri sejak tahun 1973, sempat berhenti produksi mulai tahun 1984 sampai 1988. Tahun 1989 mulai lagi alhamdulillah sampai sekarang,” ungkap Ena, sapaan akrabnya, Kamis (7/4).

Kue jadul atau kue zaman dulu itu merupakan kue yang berbahan dasar tepung terigu dan tepung tapioka. Rasanya yang khas dan aromanya yang harum selalu menggugah selera bagi pencintanya.

“Kue bintang itu bahannya dari tepung terigu, mentega sama kacang tanah yang ditumbuk. Kalau kue satelitnya tepung tapioka gula dan kelapa parut,” paparnya.

Sebagai penerus, Ena pun terkadang memiliki kendala untuk melanjutkan usaha keluarga miliknya. Salah satunya masalah modal. Namun hal itu tidak menyurutkan tekadnya untuk terus mempertahankan usaha tersebut.

“Awal-awal ada kendala di modal, tapi Alhamdulillah karena ini urusan keluarga, kita musyawarah kita mulai dengan modal seadanya. Dan Alhamdulillah itu lebih membuat kita tenang dalam menjalankan produksi,” ungkapnya.

Brand Jeni NS sendiri merupakan brand yang memiliki makna tersendiri. Nama Jeni diambil dari kakak laki-laki tertua dari keluarga NS. Sedangkan N merupakan nama ayah Ena bernama Nanggung dan S nama ibunya bernama Sa’diyah.

“Alhamdulillah brandnya sudah masuk HKI tinggal menunggu proses,” imbuhnya.

Ena mengaku usaha milik keluarganya yang hampir berusia 49 Tahun ini terus mempertahankan cita rasa yang sudah dibuat oleh ayahnya sejak dulu. Dari usaha jajanan jadul ini, Ena berhasil membuat rumah produksinya dan memiliki pegawai tetap.

“Alhamdulillah sudah ada rumah produksi dan 14 pegawai yang merupakan saudara sendiri karena ini merupakan usaha keluarga. Alamat rumah produksinya di Desa Bambang Rt.01 Rw.03 Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak,” ungkapnya.

Ena mengaku pemesanan jelang lebaran tahun ini meningkat 50 persen dari lebaran sebelumnya. Terlebih dua tahun terakhir ada program dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang mewajibkan setiap instansi membeli parcel lebaran dari UMKM daerah masing-masing, sehingga hal itu cukup membantu dalam penjualan produknya di tengah pandemi.

“Alhamdulillah ada program dari Pak Ganjar yang mengharuskan setiap instansi menggunakan parcel UMKM. Jadi Alhamdulillah dua Ramadan ini kita terbantu orderannya,” ungkapnya.

Ena berharap, kedepan usahanya tetap bisa berjalan seperti semula. Karena setelah pandemi melanda, rumah produksi milik Ena hanya beroperasi saat ada pesanan saja.

“Kangen masa-masa sebelum pandemi, harusnya kita itu kalau mendekati Lebaran itukan lembur terus, tapi sekarang untuk jalan setiap hari aja udah Alhamdulillah bersyukur banget. Kalau sekarang selama pandemi kita kerjanya tergantung orderan karena kita tidak mau tanggung resiko,” jelasnya. (cr3/gih)