Kisah Mbah Mutamakkin yang Lahirkan Pesantren di Kajen

LEWAT: warga melintas di komplek Makam Syekh Ahmad Mutamakkin, di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso, Minggu (10/4). (LUTHFI MAJID / JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Syekh Ahmad Mutamakkin (Mbah Mutamakkin) merupakan tokoh yang namanya telah dikenal luas oleh masyarakat. Ulama besar yang merupakan putra dari Bupati Sumohadinegoro tersebut lahir di Tuban, Jawa Timur.

Pemerhati Sejarah, Muhammad Farid Abbad menceritakan, Mbah Mutamakkin ialah sosok yang masih mempunyai keturunan ningrat dari Keraton Mataram. Meskipun lahir dari kalangan Keraton, namun tak menjadikannya menyukai kedudukan dunia.

Pada saat usia muda, Mbah Mutamakkin lebih memilih mendalami ilmu agama hingga ke Kawasan Timur tengah. Meski sebenarnya ia memiliki kedudukan yang cukup tinggi di Keraton.

“Beliau mencari ilmu di Kawasan Jawa Timur. Sampai kemudian, beliau mencari ilmu ke Yaman. Beliau berguru kepada ulama besar di dana. Yakni Syaikh Muhammad Zayn Al Mizjaji,” terangnya, belum lama ini.

Tak cukup itu saja, Mbah Mutamakkin lanjut menimba ilmu di Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji. Baru kemudian memutuskan pulang ke Tuban. Dalam perjalanan pulang, ada peristiwa yang membuat kisahnya semakin menarik. 

“Di perjalanan, beliau dijatuhkan ke laut oleh muridnya yang bangsa Jin. Lalu beliau diselamatkan oleh ikan meladang. Kisah ini yang diyakini oleh masyarakat sekitar,” paparnya.

Akhirnya, sampailah Mbah Mutamakkin di desa dan bertemulah dengan Mbah Syamsuddin, sosok yang berdakwah di daerah tersebut. Setelah itu, ia berguru dengan Mbah Syamsuddin dan menikahi putrinya.

Mbah Mutamakkin lantas melanjutkan dakwah Islam mertuanya dan membangun tradisi Islam hingga lahirlah pesantren-pesantren di Kajen.

“Beliau menjadi orang yang membabat alas mbah Syamsuddin. Dari sini, mulailah berdiri pesantren, madrasah. Bahkan, hampir seluruh lembaga-lembaga pendidikan di Kajen tidak lepas dari faktor gen dan sanad  mbah Mutamakkin,” tuturnya.

Selain itu, Mbah Mutamakkin juga menjadi pelopor penulis kitab. Yang kemudian dilanjutkan generasi setelahnya. 

“Jadi, Mbah Mutamakkin mewariskan keilmuannya yang menjadi kiblat pengetahuan, menjadi kiblat peradaban. Ilmu dan kaderisasi para ulama, para kyai yang menjadi estafet para kyai-kyai di Kajen,” pungkasnya. (cr7/ern)