PATI, Joglo Jateng – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pati menilai daya beli masyarakat cenderung menurun. Hal itu terjadi saat harga kebutuhan bahan pokok (kepokmas) naik selama Ramadan.
Anggota Komisi B DPRD Pati, Sukarno mengatakan, berdasarkan pantauannya di pasar tradisional, selama Ramadan jumlah pembeli tergolong menurun dibandingkan dari tahun sebelumnya. Menurutnya, hal tersebut karena belum pulihnya ekonomi akibat pandemi Covid-19.
“Saat ini ada kecenderungan terjadi penurunan animo pembeli. Mungkin kondisi perekonomian rakyat belum pulih. Sehingga masyarakat masih membatasi untuk pemenuhan kebutuhan pokok,” kata Sukarno, Senin (25/4).
Politikus Partai Golkar tersebut membenarkan terkait kenaikan beberapa bahan pokok. Meskipun dirinya tidak menyebutkan secara jelas terkait jenisnya dan jumlah kenaikan bahan tersebut.
“Harga kepokmas di pasar merangkak naik. Tetapi dibanding tahun kemarin tingkat kemahalan lebih mahal tahun kemarin,” lanjutnya.
Dirinya berharap dengan adanya keputusan Mahkamah Agung (MA) terkait pandemi Covid-19 yang sudah berakhir, bisa segera memulihkan perkonomian masyarakat. “Adanya keputusan tersebut semoga pemulihan ekonomi segera bergerak cepat dan pertumbuhan ekonomi Nasional bisa menembus diatas 5 persen,” paparnya.
Sementara itu, salah satu penjual di Pasar Puri Baru Kabupaten Pati, Siti (40) mengatakan, kenaikan harga bahan pangan menjelang Ramadan hingga saat ini. Adapun jumlah kenaikan per jenis bahan pangan mencapai Rp 5 ribu.
“Sebelum puasa sudah mulai naik harganya. Kalau jualan saya yang naik, bawang merah dulu harganya Rp 28 ribu sebelum ramadan tapi kini Rp 30 ribu lebih. Sedangkan cabe rawit dari Rp 25 perkilo hingga capai 30 ribu per kilonya,” ungkapnya. (cr7/fat)










