Meningkatkan Ketrampilan Siswa Berpikir Tingkat Tinggi

Oleh: Eti Yuningsih, S.Pd
Guru IPA SMP N 3 Petarukan, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN hendaknya mampu menghasilkan individu yang dapat menghadapi tantangan zaman. Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 ditegaskan, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Selamat Idulfitri 2024

Kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini masih rendah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menempatkan Indonesia peringkat 110 dari 188 negara. Berdasarkan hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2013 dari 65 negara yang diteliti, Indonesia berada di posisi kedua dari bawah. Salah satu penyebabnya ialah karena proses pembelajaran yang masih belum optimal.

Tidak semua guru dapat menerapkan pembelajaran yang mampun mengaktifkan potensi siswa. Sehingga siswa dapat menerapkan pengetahuannya pada ketrampilan untuk membangun sikap mereka. Mata pelajaran IPA di sekolah Penulis juga masih menjadi momok yang ter-maindset kurang baik di setiap benak peserta didik, sehingga berdampak kurangnya minat untuk menyukai pelajaran IPA. Imbas dari itu semua adalah rendahnya nilai ujian matemtematika yang diperoleh peserta didik.

Kurang berhasilnya pembelajaran IPA di sekolah penulis salah satunya karena faktor desain pembelajaran yang dirancang oleh guru kurang mengoptimalkan pengembangan kemampuan peserta didik. Di sekolah penulis juga mengalami kesulitan untuk mengarahkan peserta didik berani bertanya, berani menjawab dan berani maju mempresentasikan hasil karyanya.

Selain itu, selama ini penulis masih fokus pada penguasaan pengetahuan kognitif (hapalan materi). Dengan demikian proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru jarang melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada ketrampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS).  Penulis juga kurang maksimal menggunakan media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kurang menarik dan tidak menyenangkan.

Untuk menghadapi era Revolusi Industri, siswa harus dibekali ketrampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi kurikulum saat ini adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/PBL).

PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah. Selain itu juga untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi yang dipelajarinya.

Dalam PBL, siswa dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, PBL membelajarkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Langkah pembelajaran problem based learning adalah sebagai berikut: menjelaskan tujuan pembelajaran meliputi menjelaskan logistik yang dibutuhkan dan memotivasi siswa dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih, membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan permasalahan tersebut. Kemudian, mendorong siswa dalam mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk penjelasan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah. Juga membantu siswa dalam merencanakan serta menyiapkan laporan hasil karya yang sesuai seperti laporan. Guru membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap penyelidikan mereka.

Setelah melaksanakan pembelajaran materi Pencernaan pada Manusia dengan model PBL, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar siswa meningkat. Lebih bagus dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Dengan pembelajaran model PBL yang berorientasi pada HOTS penulis sarankan pada rekan-rekan guru mencoba menggunakan model ini untuk pembelajaran lainnya. (*)