DESI Setiasih menyukai dunia tari saat ia mulai dirias oleh MUA, yakni saat ia hendak menari di bangku taman kanak-kanak. Ia pun juga menyukai alunan gamelan dan musik dari tarian tersebut.
“Awal suka karena saat menari kan kita dirias, didandanin gitu jadi aku suka. Selain itu juga karena alunan musik atau gamelannya, kalau sudah dengar jiwanya langsung kepanggil untuk menari gitu,” ujarnya, saat dihubungi Rabu (27/7).
Kesukaannya pun didukung dengan adanya gamelan yang ada dirumah neneknya. Dulunya, di rumah neneknya ini sering digunakan untuk latihan karawitan dan tari rakyat.
“Ngeliat orang-orang pada nari jadi lebih suka nari, belajar mandiri secara otodidak. Pas SMP baru masuk sanggar,” ucap gadis kelahiran Desember 1999 ini.
Desi, sapaannya, mengaku terakhir mengikuti lomba tari pada bulan Juni 2022 di Kediri, dengan membawakan tari kreasi baru dan klasik. Ia mengaku hingga sekarang masih sering mengikuti pentas tari sekaligus melestarikan budaya jawa.
“Kalau bukan kita siapa lagi yang melanjutkan. Jadi harus tetap dilestarikan,” bebernya.
Ia yang juga hobi merias pun hanya latihan beberapa jam sebelum mereka tampil. Hal ini menurutnya tergantung dengan siapa penarinya, apakah sudah handal atau belum.
“Kalau mau nari kreasi atau tradisional, tariannya sudah ada dan dengan penari yang pro, benar-benar hanya beberapa jam sebelum tampil. Bahkan sempat belum latihan, begitu sampai langsung make up, pakai kostum naik panggung belum sempat bikin bola, tapi dengan senyum atau tatap maat kita sudah paham,” katanya.
Anak bungsu ini pun menyemangati adik-adiknya yang saat ini juga sedang berlatih menari. Sehingga nantinya bisa menjadi penari profesional dan handal, sekaligus dapat melestarikan budaya jawa khususnya dalam dunia tari. (ers/bid)










