PATI, Joglo Jateng – Kerusakan kawasan hulu menjadi sorotan setelah terjadi sejumlah bencana alam di Kabupaten Pati belum lama ini. pemelirahaan kawasan tangkap hujan masih menjadi tugas besar. Pasalnya, kerusakan kawasan hulu salah satu pemicu terjadinya bencana alam.
Kepala Badan BPBD Pati Martinus Budi Prasetya mengungkapkan, selama ini penanganan bencana hanya fokus di daerah hilir dan kawasan tengah saja. Tetapi ternyata daerah hulu atau daerah tangkapan hujan juga perlu di perhatikan.
Dirinya juga menyingung soal tanaman semusim di kawasan lereng Gunung Muria maupun Kendeng. Pasalnya, tanaman tersebut tidak sesuai fungsi kawasan tangkapan hujan.
“Masyarakat masih menanam tumbuhan semusim, seperti ketela di wilayah utara dan jagung di wilayah selatan. Sehingga perlu diberikan edukasi supaya menanam tumbuhan keras sebagai upaya mengurangi resiko kerusakan akibat bencana,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, kawasan Gunung Muria bagian timur masih bagus. Sementara di Kawasan Kendeng yang masih terpelihara hanya di Pucakwangi saja.
“Diluar kawasan Pucakwangi kondisinya sudah rusak. Ini yang menjadi perhatiaan kita sungguh-sungguh dan komitmen yang luat untuk kembali menghijaukan wilayah,” imbuhnya.
Sementara itu, Administratur KPH Pati, Arif Fitri Saputra menyampaikan bahwa kriteria hutan yang rusak disebut tanah kosong. Berdasarkan data Perhutani, tercatat di Pati setidaknya selauas 8.830,71 hektare tanah kosong.
“Kami sudah rencanakan rehabilitasi dari tahun 2022-2024. Tahun ini ada rencana 1.950 hektare. Kemudian 2023 ada 1.996 hektare area dan 2024 ada 2.625 hektare. Jadi, untuk hutan-hutan yang tanamnya kosong,” jelasnya.
Sedangkan pencegahan bencana, pihaknya memiliki rencana tanam dari tahun 2022-2028 dengan jumlah luasan sebanyak 9.781,89 hektare area. Sementara untuk luasan KPH di Pati sejumlah 20.943 hektare area. (lut/fat)










