KUDUS, Joglo Jateng – Sejumlah 60 ekor spesies cecak batu ditemukan di sungai Ceweng, Kajar, belum lama ini. Cecak Batu muria merupakan jenis cecak endemik dari Gunung Muria yang pertama kali ditemukan dan diteliti pada 2019.
Temuan tersebut didapatkan saat diadakan penelitian ekologi dan pendataan jumlah populasi Cecak Batu (Cnemaspis Muria). Penelitian itu dilakukan oleh Green Community, Biologi Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang bekerja sama dengan Muria Research Center (MRC) Indonesia. di kawasan lereng Gunung Muria, Selasa (6/9) hingga Senin (12/9).
Koordinator penelitian Lutfian Nazar menjelaskan, kegiatan penelitian ekologi dan pendataan populasi ditujukan untuk pemetaan pada populasi, data biologi, dan perilaku Cnemaspis Muria. Sejumlah 60 ekor cecak batu ditemukan di hilir sungai Ceweng, perbatasan antara Desa Kajar dengan Desa Colo.
“Dari hasil pendataan, ditemukan sebanyak 60 ekor cecak batu. Kami tengah berupaya untuk menyediakan peta distribusi terbaru dan menilai pemodelan kesesuaian habitat Cnemaspis Muria,” terangnya.
Sebelumnya telah diadakan survei keberadaan Cecak batu muria di tiga kabupaten yang masih kawasan lereng Gunung Muria. Yakni Kudus, Pati, dan Jepara. Untuk saat ini, populasi spesies cecak batu muria yang baru ditemukan hanya di sungai Ceweng, perbatasan antara Desa Kajar dengan Desa Colo.
“Selain meneliti cecak batu muria, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pendataan pada keanekaragaman hayati, seperti burung, herpetofauna, capung, dan kupu-kupu,” paparnya.
Pihaknya berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat lokal akan pentingnya isu-isu konservasi reptil dan keanekaragaman hayati melalui pendidikan lingkungan di sekolah. Dan penelitian-penelitian semacam ini akan terus berlanjut kedepannya.
“Dengan begitu, saya harap masyarakat dapat lebih mencintai lingkungan dan ekosistem. Sehingga lingkungan dan ekosistem dapat terjaga kelestariannya,” tuturnya. (cr1/fat)










