Tidak Lagi Anak Kecil, Begini Cara Gen Z Berperan sebagai Orangtua

ILUSTRASI: Gen Z. (ANTARA/JOGLO JOGJA)

MEMBAHAS tentang Generasi Z (Gen Z) memang tidak ada habisnya. Generasi yang lahir dalam rentang waktu tahun 1995-2010 ini selalu menarik jika dikulik dari beragam sisi.

Mulai dari cara bersosial, perannya di masyarakat, cara berpendidikan, lifestyle, kehidupannya di media sosial, makanan kesukaan, bahkan hingga caranya berpacaran saja selalu ramai diperbincangkan.

Terdapat gap yang cukup kentara antara gen Z dengan generasi-generasi sebelumnya. Misalnya, generasi Milenial dan Boomer yang seringkali, menganggap gen Z sebagai anak kecil.

Beberapa dari Milenial dan Boomer bahkan menganggap gen Z tidak tahu budaya dan etika berkehidupan (tentunya, dalam lanskap cara hidup generasi Milenial dan Boomer). Hal ini pula yang sering menjadi perdebatan seakan-akan tidak ada medium yang bisa menjembatani antara generasi sekarang dengan generasi sebelumnya.

Padahal, barangkali ini hanya persoalan cara pandang dan bagaimana cara masing-masing generasi menempuh setiap detik dalam 24 jamnya.

Sebagai generasi yang berlabel “digital native” atau hidup dalam keadaan dunia digital yang mumpuni, membuat gen Z memiliki lebih banyak pilihan dan kemungkinan untuk membuat dunia yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya.

Misalnya saja tentang isu lingkungan, gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih peduli dan menggebu dengan perubahan iklim melebihi generasi sebelumnya. Atau, tentang isu kesehatan mental yang juga banyak menjadi fokus pembahasan di media sosial, serta beberapa lingkup lain yang menjadi pembeda gen Z dengan generasi lainnya.

Meskipun dianggap masih kecil, sadar gak sih, kalau gen Z sebenarnya sudah banyak yang memasuki dunia kerja bahkan menikah. Jika dihitung, generasi pertama gen Z saja tahun ini sudah berusia 27 tahun. Bukan anak ingusan lagi kan?

Melihat cukup banyak dari gen Z yang sudah menikah dan berkeluarga, kira-kira bagaimana cara gen Z mengelola keluarganya sendiri, dan bahkan pola asuh yang diterapkan untuk anak-anaknya?

Menurut data dalam artikel yang diunggah vice.com (22/7), mereka melakukan riset terhadap narasumber yang lahir dalam era gen Z dan sudah menikah, kemudian menemukan sejumlah jawaban terkait bagaimana para gen Z menerapkan pola dalam mengasuh anak.

Terkait peran dan kesetaraan gender, para responden yang menjadi objek penelitian tersebut mengatakan bahwa dalam mendidik anak-anaknya, mereka mencoba untuk tidak membebankan tugas yang terlalu berbeda antara anak laki-laki dan perempuan.

Sedangkan ketika ditanya tentang pekerjaan anaknya di masa depan, para responden tersebut mengatakan bahwa tidak terlalu ingin ikut campur terhadap pilihan anaknya tersebut.

Hal ini dikarenakan para gen z sudah memiliki pengalaman bagaimana rasanya ketika dipaksa oleh orangtuanya untuk menduduki suatu pekerjaan tertentu, yang belum tentu menjadi keinginannya. Sehingga kebanyakan dari responden mengaku tidak ingin memaksakan anak-anaknya untuk membidangi pekerjaan yang bukan menjadi passion-nya.

Meskipun dihadapkan dengan dunia yang sudah serba terbuka terkait akses informasinya, sebagian responden menyatakan bahwa menginginkan untuk tetap memberikan input nilai-nilai religiusitas dalam mendidik anaknya.

Kemudian, yang menjadi dilema lagi ialah, bagaimana anak-anak di masa yang akan datang bisa menjalani kehidupan dalam lingkungan yang tanpa batas. Orangtua dari generasi Z juga mengkhawatirkan bagaimana anak-anaknya akan mampu bertahan di dunia yang penuh dengan gelombang informasi.

(mg2)