KOTA, Joglo Jogja – Museum Sonobudoyo kembali menggelar pameran Abhinaya Karya 2022 di paruh terakhir tahun 2022. Pameran yang bertajuk ‘Vidya-Mulya: Jejak Pengetahuan Nusantara’ ini sebagai upaya membaca ulang keberagaman koleksi di museum sekaligus daya dukung penyelenggaraan agenda Perpustakaan Sonobudoyo.
Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahli mengatakan, ide dasar dari penyelenggaraan pameran ini adalah menelusuri jejak ilmu pengetahuan yang berada di Museum Sonobudoyo. Hal ini didapat dengan memetakan produksi pengetahuan yang tidak terlepas dari keberadaan Java Institut yang lebih dulu hadir sebelum berdirinya museum.
“Produksi pengetahuan di awal abad ke-20 menjadi motor awal memetakan keberagaman budaya di Jawa, Sunda, Bali, Madura, dan Lombok sebagai konsen penelitian saat itu. Pameran ini menampilkan berbagai koleksi yang merekam perubahan aksara-aksara di Nusantara,” jelasnya, Kamis (13/10).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa fokus dari pameran ini pada keberadaan Perpustakaan Sonobudoyo. Di mana perpustakaan tersebut dulunya menjadi payung pengetahuan. “Atmosfer itulah yang kemudian dibawa melalui koleksi buku-buku langka sebagai terbitan dari pelbagai kongres kebudayaan hingga hasil riset terbaru awal abad ke-20,” imbuhnya.
Ia pun mengajak kepada pengunjung untuk bersama-sama menelusuri sejarah museum melalui perspektif perpustakaan. Adapun pameran tersebut terdiri dari berbagai macam koleksi seperti mesin ketik manual, koleksi ensiklopedia berbahasa Belanda dengan tahun terbit 1935, manuskrip Serat Panji Bedhah Negari Bali, dan bernagai jenis prasasti.
“Berawal dari Java Institut, Museum Sonobudoyo terus berkembang dan memproduksi pengetahuan hingga saat ini. Sebagai lembaga yang mendukung pendidikan, kerja dari museum tidak dapat dikecilkan, pameran ini menjadi bukti dari kerja-kerja kebudayaan sekaligus kerja-kerja pengetahuan dari museum kepada masyarakat luas,” bebernya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pameran ini digelar atas dukungan Dana Keistimewaan dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain itu, pihaknya juga bekerjasama dengan berbagai komunitas di Yogyakarta.
“Penyelenggaraan pameran sejak 28 September hingga 23 Oktober 2022 untuk memperluas jejaring museum. Di sisi lain juga museum sebagai ruang inklusi untuk mengajak masyarakat agar dapat berpartisipasi menghidupkan kegiatan pameran melalui parade dongeng, webinar, maupun bedah buku,” jelasnya.
Salah satu pengunjung asal Solo, Jawa Tengah, Eka Fajrinawati (18) mengaku tahu informasi pameran tersebut melalui aplikasi Tiktok. Ia pun datang dari luar kota untuk melihat pameran tersebut secara langsung.
“Tahu infomasi dari tiktok, bagus, unik-unik pamerannya. Mengenai koleksinya menjadi ciri khas tersendiri ya, sebagai pengetahuan dan sebagai pelajar harus mempelajari budaya-budaya kita dari dulu,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Lintang Suryaningratri (19) mengaku senang dapat berkunjung ke pameran tersebut. Sehingga ia dapat menambah pengetahuan akan budaya Nusantara. “Senang lihat-lihat di sini, menambah pengetahuan. Semoga pameran seperti ini sering diadakan lagi,” katanya. (adv-ers/gih)










