Jepara  

Ketika R.A Kartini Kecil Berobat ke Klenteng

TERAWAT: Kondisi Klenteng Hian Thian Siang Tee, Welahan, Jepara, belum lama ini. (MUHAMMAD AGUNG PRAYOGA/JOGLO JATENG)

RADEN Ajeng (RA) Kartini semasa kecil pernah mengalami sakit keras. Usianya menginjak tujuh tahun. Tubuhnya menggigil hebat dan demam yang tak kunjung reda. Akhirnya, Ayah Kartini, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat berusaha mendatangkan dokter dari mana saja, namun saat itu belum berhasil.

Hal tersebut diceritakan oleh Penjaga Klenteng Hian Thian Siang Tee, Welahan, Jepara, Suwoto kepada Joglo Jateng, belum lama ini. “Aneh, didatangkan dokter dari mana pun, Kartini kecil belum sembuh juga,” ujarnya.

Ia melanjutkan, hingga datang seorang Tionghoa yang sedang dihukum oleh pemerintah Hindia-Belanda. Orang tersebut, menawarkan diri untuk mengobati RA Kartini.

“Abu dari hioswa (lidi shio) yang dibakar sembah bakti pada satu tepekong Tionghoa di Welahan, yang kemudian dicampur air, lalu diminum oleh RA Kartini dan sembuh,” terang Suwoto.

Sejak saat itu, RA Kartini mendaku dirinya sebagai anak dari Santikkong Welahan. Pihaknya berterimakasih karena telah disembuhkan dari penyakit.

Lebih lanjut, berdasarkan buku ‘Door Duisternis Tot Licht’ disebutkan, pada 27 Oktober 1902, RA Kartini menulis surat kepada istri Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda, Nyonya R.M. Abendanon.

“Apa yang tak berhasil dengan obat-obatan kaum terpelajar ternyata berhasil dengan obat tukang jamu,” ucap Suwoto mencontohkan RA Kartini.

Kartini hendak menceritakan, perbedaan dunia Jawa dan Belanda melalui surat 18 halamannya. Suwoto melanjutkan, sebelumnya RA Kartini selalu memuji Eropa sebagai sumber rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Namun, dalam surat itu dia menjelaskan bagaimana orang Jawa percaya klenik.

“Bagaimanapun, saya mesti belajar kenal dengan ‘bapak’ saya yang besar itu,” ujar Kartini membahas tentang Santikkong, arwah leluhur orang Welahan yang disucikan di kelenteng tersebut. Di sana, Kartini menyaksikan upacara memperingati ulang tahun arwah.

“Aapabila terjadi wabah penyakit hebat, patung Santikkong akan diarak ke sana ke mari dengan menggunakan upacara untuk mengusir pengaruh jahat. Sebab, Santikkong atau Siang Tee Kong (Kongco Welahan) dikenal sebagai Dewa Penyembuh,” pungkasnya. (cr2/gih)