Metode Pemodelan Tingkatkan Belajar Senam Lantai Guling Depan

  • Bagikan

Oleh: Kori’ah, S.Pd
Guru PJOK SMP 1 Dawe Kudus

PENDIDIKAN jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis. Kemudian keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap, mental, emosional, sportifitas, spiritual, sosial). Lalu pembiasaan pola hidup sehat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.

Olahraga yang dilakukan secara baik dan benar memiliki dampak positif. Manfaat belajar senam lantai guling depan dapat membentuk sikap tubuh yang baik. Meliputi anatomis, fisiologis, kesehatan dan hasil belajar jasmani, serta bisa menambah keterampilan hidup dalam menghadapi kejadian insidentil. Misal kecelakaan di jalan raya supaya efek dari jatuh tidak mengakibatkan kefatalan, maka bisa jatuh dengan mengguling ke depan.

Hasil pengamatan pada pembelajaran senam lantai guling depan, ternyata banyak ditemukan masalah. Di antaranya, siswa mengganggap aktivitas  senam lantai merupakan olahraga yang sulit. Terbukti siswa cenderung takut dan tidak percaya diri untuk melakukan gerakan senam lantai guling depan. Dampaknya, siswa sering mengeluh nyeri pada leher, merasa kepala pusing, dan pandangan berkunang-kunang. Hal tersebut dikarenakan siswa dalam melakukan gerakan pada senam lantai guling depan tidak sesuai dengan teknik dasar yang benar.

Dari 32 siswa, hanya 14 siswa (44 %) yang tuntas pada materi senam lantai guling depan. Hasil belajar rata-rata 73 (di bawah KKM). Untuk meningkatkan hasil belajar senam lantai guling depan digunakan metode pemodelan.

Prasetyo & Sunarti (2016: 6) menjelaskan, rendahnya hasil belajar PJOK bergantung pada proses pembelajaran yang dihadapi oleh siswa. Pembelajaran PJOK yang baik tidak lepas dari peranan guru dalam mengajar. Guru hendaknya mempersiapkan strategi dan metode mengajar yang tepat disesuaikan dengan kemampuan siswa.

Pemodelan dapat diartikan sebagai upaya pemberian model (contoh) yang berhubungan dengan materi dan aktivitas pembelajaran yang dilakukan siswa (Nuryatin, 2010). Pemodelan dikatakan efektif apabila siswa menjadi lebih paham terhadap materi yang dipelajari, terlibat dengan lebih antusias. Lalu memberikan variasi situasi, biaya dan waktu lebih efisien. Pemilihan komponen pemodelan dalam pembelajaran merupakan upaya untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam memahami, mengikuti gerakan, dan mengubah perilaku siswa ke arah yang positif.

Hasil Penelitian tindakan kelas menggunakan metode pemodelan dalam pembelajaran terbukti dapat meningkatkan hasil belajar senam lantai guling depan. Dari hasil observasi kemampuan senam lantai guling depan siswa pada siklus I, didapat bahwa kemampuan siswa meningkat dari rendah pada kondisi awal menjadi agak tinggi.

Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 76 dan siswa yang tuntas sebanyak 22 siswa (69 %). Rata-rata hasil belajar meningkat 3 poin dari 73 menjadi 76. Siswa yang tuntas belajar meningkat meningkat 25 % dari 44 % menjadi 69% atau dari 14 siswa menjadi 22 siswa.

Hasil observasi kemampuan senam lantai guling depan siswa pada siklus II, didapat bahwa kemampuan senam lantai guling depan siswa meningkat dari agak tinggi pada siklus I menjadi tinggi. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II sebesar 80 dan siswa yang tuntas sebanyak 27 siswa (88 %). Rata-rata hasil belajar meningkat 2 poin dari 73 menjadi 75. Siswa yang tuntas belajar meningkat 13 % dari 75 % menjadi 84 % atau dari 22 siswa menjadi 27 siswa

Penggunaan metode pemodelan dapat meningkatkan hasil belajar PJOK materi senam lantai guling depan. Selain itu memperbaiki kualitas belajar dan pembelajaran. Siswa menunjukkan keberanian dalam mencoba berlatih senam lantai guling depan. Lantas apalagi yang guru ragukan untuk menggunakan metode pemodelan dalam kegiatan belajar dan pembelajaran senam lantai guling depan. (*)

  • Bagikan