Meningkatkan Hasil Pembelajaran Praktek PJOK dengan Metode Tutor Sebaya

Oleh: Ismiati, S.Pd.
Guru PJOK SMP Negeri 3 Demak

PENDIDIKAN jasmani merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Jika diarahkan dan dibina dengan baik, siswa akan mengembangkan keterampilan yang berguna bagi pengisian waktu senggang. Mereka juga bisa  terlibat dalam aktivitas yang kondusif untuk mengembangkan hidup sehat, berkembang secara sosial, sehingga  bermanfaat pada kesehatan fisik dan mentalnya. Pendidikan Jasmani dapat meningkatkan dan membentuk kematangan sosial, meningkatkan prestasi, dan mengoptimalkan pertumbuhan jasmani.

Selamat Idulfitri 2024

Pendidikan jasmani yang utuh harus mampu memberikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya melibatkan psikomotor, tapi harus secara  terintegrasi dengan penguatan karakter serta kematangan pengetahuan, sehingga memberikan pembelajaran yang bermakna. Melalui penerapan pendidikan jasmani secara utuh dan model pembelajaran yang efektif, diharapkan siswa mampu mengembangkan dan menerima potensi yang ada pada dirinya. Misalnya, siswa yang menyendiri dan tidak ingin berkelompok disebabkan karena merasa tidak diakui lingkungan sekitar. Contoh lainnya, siswa yang tidak ingin melakukan salah satu kegiatan olahraga disebabkan  karena memiliki keterbatasan terhadap keadaan diri sendiri.

Berdasarkan permasalahan di atas, maka  untuk membentuk konsep diri siswa yang positif melalui pembelajaran pendidikan jasmani diperlukan adanya model yang saling berkaitan dan interaksi antar siswa. Atau disebut juga sebagai pembelajaran antar teman/tutor sebaya. Tutor sebaya bisa terjadi ketika siswa yang lebih mampu  menyelesaikan pekerjaannya sendiri membantu siswa lain yang kurang mampu. Ciri khas dari model pembelajaran ini adalah melibatkan siswa secara penuh dalam proses pembelajaran. Dengan begitu, siswa  yang merasa kesulitan dalam belajar dibantu dengan temannya yang sudah bisa mengusai tugas gerak.

Dengan adanya tutor sebaya, siswa menjadi tidak ragu, malu, atau canggung  untuk meminta bantuan dari temannya, sehingga pembelajaran pendidikan jasmani  lebih optimal. Selain itu, kegiatan tutoring ini menambah konsep materi semakin terkuasai dan menambah perasaan sosial  bagi tutor. Dengan demikian, bukan hanya berkembang dalam aspek psikomotor saja, tetapi juga aspek afektif dan kognitif.

Persiapan dalam membentuk pola tutor sebaya yaitu dengan guru terlebih dahulu mendemontrasikan dan memberikan penjelasan materi yang akan diajarkan. Kemudian siswa diberikan kesempatan untuk mencoba tugas gerak yang diberikan. Guru bisa mempersiapkan siapa saja yang akan dijadikan tutor pada setiap kelompok untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar. Selain itu, guru perlu membagi jumlah anggota tiap kelompok berdasarkan kebutuhan proporsional.

Terdapat kriteria yang harus dimiliki seorang untuk dijadikan tutor.  Selain siswa calon tutor harus mampu dan terampil dalam penguasaan materi, sikap  dan penyampaiannya pun harus memiliki sikap  sosial yang baik serta peduli akan sesama temannya. Kriteria lain yakni calon tutor harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi, baik secara teoritis ataupun praktik.

Dengan metode tutor sebaya, pembelajaran jadi lebih menyenangkan dan hasilnya menjadi lebih baik. Karena tidak ada keraguan lagi pada siswa yang kurang mampu dalam pembelajaran gerak untuk melakukan gerakan-gerakan dalam olahraga. (ara/mg4)