Meningkatkan Keberanian Berargumentasi Peserta Didik melalui Pembelajaran Teks Diskusi

Oleh: Taniro, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia SMPN 3 Belik, Kab. Pemalang

PESERTA didik adalah subjek dalam kegiatan pembelajaran yang perlu diberikan ruang lebih utama untuk mengekspresikan dirinya dalam peningkatan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Budiyono (2007:80) menyatakan bahwa keberanian adalah kualitas jiwa yang tidak mengenal rasa takut pada kritik. Tetapi membuat orang melanjutkannya dengan ketenangan dan ketabahan dalam menghadapinya.

Untuk meningkatkan kemampuan berolah pikir peserta didik dan keberanian berargumentasi yang baik, tentunya perlu menguatkan pembelajaran teks diskusi secara maksimal terhadap peserta didik. Menjadikan peserta didik memiliki keberanian mengungkapkan gagasan-gagasannya tentu perlu mendapatkan arahan dan bimbingan dari guru. Yaitu agar peserta didik terbiasa untuk berpikir logis dan berani untuk mengungkapkannya baik melalui pengungkapan secara lisan maupun tertulis.

Dalam kegiatan diskusi, terdapat dua kelompok yang berbeda pendapat untuk membahas suatu topik permasalahan yang kontroversial perlu mendapatkan solusi yang terbaik dalam penyelesaiannya. Diskusi merupakan kegiatan pertemuan ilmiah untuk saling berargumentasi menyelesaikan suatu permasalahan yang perlu mendapatkan sebuah solusi yang terbaik dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Teks diskusi merupakan sebuah wacana berupa tulisan yang membeberkan dua pernyataan pendapat yang berbeda. Satu di sisi argumen pendukung, dan satu di sisi argumen yang kontra. Perbedaan pendapat yang disampaikan akan mengakibatkan kedua belah pihak saling bertukar pikiran mengenai suatu topik yang menjadi bahan perbincangan dengan cara berdiskusi. Yakni untuk memperoleh suatu solusi dan simpulan yang terbaik dalam penyelesaian masalah.

Dalam menyusun teks diskusi, peserta didik harus mengenali bagian-bagian teks dengan cermat. Teks diskusi memiliki bagian, yang pertama adalah isu atau permasalahan. Pada bagian ini peserta didik harus menuliskan suatu topik yang akan dibahas peserta didik dengan lebih mendalam. Pada teks diskusi juga perlu memahami bagian argumen pendukung (pro) dan juga argumen penentang (kontra).

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Pada bagian argumen pendukung merupakan tulisan yang pembahasannya mengarah pada hal-hal yang searah, sejalan, setuju, dan bersifat mendukung suatu topik yang menjadi suatu pembahasan pada diskusi yang ada dalam teks diskusi yang ditampilkan. Sedangkan pada bagian argumen penentang (kontra) peserta didik harus menyusun argumen-argumen yang merupakan kebalikan dari argumen pendukung. Bagian ini berisi tentang pembahasan yang bertolak belakang, dan menentang topik yang menjadi bahan perbincangan pada pada konteks yang dibahas. Ketika memahami teks diskusi, peserta didik juga perlu mengenali bagian simpulan atau saran.

Bagian kesimpulan berisi tentang simpulan dan saran mengenai topik yang tengah dibahas dalam diskusi. Didalamnya juga memuat suatu pernyataan yang tidak memiliki tendensi kepada suatu pihak tertentu. Sehingga merupakan jalan tengah yang terbaik dari hasil permasalahan yang dibahas dalam diskusi.

Baca juga:  Guru Bangun Kepercayaan Diri pada Siswa Korban Bullying

Peserta didik perlu diberikan kesempatan yang luas untuk berlatih menyusun dan mengungkapkan ide secara lisan. Yakni agar keberanian menyampaikana argumen yang berbentuk argumen pro maupun kontra semakin mahir, menyampaikan ide-idenya kepada orang lain. Baik pada forum diskusi kelompok maupun forum seminar. Ernasari (2011) menyampaikan bahwa diskusi ialah kecakapan ilmiah yang responsif. Berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematik serta pemunculan ide-ide. Sedangkan pengujian ide-ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu. Mereka diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari kebenaran.

Dengan demikian, meningkatkan dan mengembangkan keberanian peserta didik dalam bertukar pikiran dalam kegiatan diskusi akan menjadikan peserta didik memiliki kemampuan berpikir yang logis dan terarah. Yaitu untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang perlu mendapatkan solusi yang terbaik dari berbagai argumen-argumen yang muncul. (*)