Oleh: Nurmiati, S.Pd
Guru SDN 03 Rowosari, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang
DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan kegiatan mengukur, menimbang, menghitung, dan lain sebagainya. Semua itu berhubungan dengan matematika. Menurut Sri Subarinah (2006:1), matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya.
Sedangkan Menurut Piaget (dalam Soedjadi, 1995:27), pengajaran matematika di SD perlu melalui langkah-langkah konkret-semi konkret konkret-abstrak. Dari penjelasan itu, dapat disimpulkan bahwa anak SD akan sulit memahami jika diberi materi berbentuk abstak tanpa memberi contoh konkret. Apalagi pelajaran matematika yang pelajarannya banyak menggunakan simbol yang sifatnya abstrak.
Penggunaan media yang bersifat nyata akan lebih mudah dipahami dan lebih menarik perhatian siswa. Mereka tidak bisa dihadapkan langsung dengan hal-hal yang abstrak. Dengan menggunakan hal-hal nyata yang diberikan dalam pembelajaran matematika, diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan. Dalam hal ini seorang guru juga harus mempunyai kompetensi yang baik untuk dapat mendidik siswa dalam memahami materi matematika yang akan diajarkan.
Komponen utama dalam proses pembelajaran adalah guru dan siswa. Ditinjau dari komponen guru, agar proses pembelajaran berhasil, guru harus dapat membimbing siswa sedemikian rupa. Sehingga mereka dapat mengembangkan pengetahuannya sesuai dengan struktur pengetahuan mata pelajaran yang dipelajarinya. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, harus memahami sepenuhnya materi yang diajarkan. Guru juga dituntut mengetahui secara tepat dimana posisi pengetahuan siswa pada awal (sebelum) mengikuti pelajaran materi tertentu. Selanjutnya berdasar metode yang dipilihnya, guru diharapkan dapat membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuannya secara efektif
Menurut Anderson, alat peraga sebagai media atau perlengkapan yang digunakan untuk membantu guru mengajar. Guru dapat mengawalinya dengan menggunakan selembar kertas yang dilipat sesuai pecahan yang dikehendaki. Selanjutnya guru menggunakan peraga blok pecahan model lingkaran dan persegi panjang tersebut, untuk menerangkan tentang pecahan.
Dunia ini penuh dengan pecahan. Jika tidak ada pecahan, maka tidak akan bisa berbagi kue dengan orang lain, dan harus membeli semuanya secara utuh atau tidak membeli sama sekali. Pecahan adalah salah satu cara untuk menuliskan bilangan. Pecahan menunjukkan bahwa jika sebuah bilangan merupakan bagian dari satu bilangan utuh (Lynette Long dalam John Wiley & Sons, Inc, 2003:1)
Setelah anak mengenal bilangan ini digunakan untuk menyatakan banyaknya anggota suatu himpunan, selanjutnya diperkenalkan lagi hal baru. Yaitu bilangan yang digunakan untuk menyatakan bagian-bagian benda. Jika benda itu dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang sama. Bilangan-bilangan itu disebut bilangan pecah atau pecahan
Media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau pesan. Benda konkret berarti nyata, benar-benar ada (berwujud, dapat dilihat, diraba, dan sebagainya). Benda konkret merupakan benda yang sudah ada disekitar kita dan dapat digunakan secara langsung maupun dapat dimanipulasi sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
Media benda konkret merupakan alat bantu dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. Media benda konkret adalah objek yang sesungguhnya yang akan memberikan rangsangan yang amat penting bagi siswa dalam mempelajari berbagai hal. Terutama yang menyangkut pengembangan keterampilan tertentu.
Adapun langkah-langkah penggunaan media konkret yaitu menetapkan tujuan secara jelas, memilih alat atau media konkret disekitar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kemudian menyusun perencanaan pembelajaran, melaksanakan penyajian pembelajaran yang berpusat pada keterlibatan siswa, siswa mengamati bentuk benda nyata. Lalu guru memberikan kesempatan bertanya, melakukan pembahasan hasil pengamatan bersama, melakukan kegiatan tindak lanjut, dan melakukan evaluasi. (*)








