Oleh: Atikah, S.Pd.I.
Guru IPA MTs Negeri 1 Grobogan
MADRASAH Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Grobogan terletak di Desa Jeketro Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. Terdapat banyak pondok pesantren di sekitar MTs Negeri 1 Grobogan, yang ditinggali siswa-siswa dari luar daerah. Pondok pesantren mempunyai program-program tertentu yang khas dan jadwal pelaksaannya relatif padat.
Siswa MTs Negeri 1 Grobogan yang notabene belum dapat me-manage waktu dengan baik, mereka sering kesulitan mengatur rutinitas harian antara tugas madrasah/sekolah dan jadwal kegiatan pondok pesantren. Bahkan tidak sedikit siswa yang sering kurang fokus belajar karena mengantuk.
Jumlah siswa MTs Negeri 1 Grobogan yang tinggal di pondok pesantren ada lebih dari 50% di hampir setiap kelasnya. Masalah yang pasti dihadapi dalam kegiatan pembelajaran adalah kurang responnya para siswa karena rasa kantuk yang tidak tertahan.
Sebagai guru, kita akan merasa puas jika semua informasi yang penting ter-deliver pada siswa. Sehingga kita selalu berupaya membuat kegiatan belajar mengajar bisa meninggalkan kesan yang baik dan bermakna untuk para siswa. Dengan kata lain mastery learning tercapai. Umumnya metode ceramah atau ekspositori menjadi pilihan termudah dan pilihan favorit oleh beberapa guru karena tidak memerlukan banyak persiapan. Terkadang metode ceramah memang sangat diperlukan sebagai metode pendamping untuk penegasan/penekanan suatu konsep dan untuk menyimpulkan suatu konsep.
Namun begitu, terdapat beberapa kelemahan pada metode ceramah jika dipergunakan sebagai metode satu-satunya tanpa suplemen yang lain. Seperti yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2006), kelemahan-kelemahan yang terdapat pada metode ceramah yaitu sebagai berikut. Pertama, materi yang dikuasai siswa dari hasil ceramah akan terbatas pada yang dikuasai guru. Kedua, ceramah yang tidak disertai peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme. Ketiga, guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan. Keempat, melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum.
Salah satu strategi pembelajaran yang penulis pilih sebagai alternatif untuk mengusir rasa kantuk siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran make a match atau mencari pasangan yang tepat. Penulis mencoba menerapkan model ini dalam materi Klasifikasi Makhluk Hidup pada kelas VII. Dikarenakan pada materi ini terdapat beberapa gambar makhluk hidup atau istilah latin yang perlu diperhatikan dan diingat oleh siswa. Langkah-langkah dalam model pembelajaran make a match adalah sebagai berikut.
Pertama, guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi topik yang cocok untuk sesi review (beberapa kartu berisi pertanyaan dan sebagian kartu yang lain berisi jawaban). Kedua, setiap siswa mendapat satu buah kartu. Ketiga, setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Keempat, guru mencatat siswa yang paling cepat menemukan pasangan kartu yang cocok. Langkah terakhir mengocok ulang kartu dan dibagikan pada siswa secara bergantian. Untuk menghindari siswa mengambil kartu yang sama, siswa dalam kelas dapat dibagi menjadi 2 kelompok (kelompok siswa yang mengambil kartu yang berisikan pertanyaan dan kelompok siswa yang mengambil kartu yang berisikan jawaban).
Selama menerapkan model ini memang diperlukan persiapan lebih dan suasana kelas menjadi sedikit gaduh. Namun siswa relatif antusias dan gembira. Upaya untuk membuat suasana belajar didalam kelas lebih menyenangkan ini perlu dicoba meskipun tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah yang kita hadapi selama ini. Semoga dengan penerapan model make a match membantu pulihnya pembelajaran kita dari loss learning yang selama hampir dua tahun ini melanda siswa-siswa kita. Kemudian dapat mengembalikan semangat serta fokus belajar mereka. (*)








