SEMARANG, Joglo Jateng – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang menjadikan pohon tabebuya dan pule sebagai tren dalam mempercantik taman. Disperkim ingin menirukan taman yang ada di Surabaya.
Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman Disperkim Kota Semarang, Sri Rahayuningsih mengungkapkan, sampai sejauh ini, kedua jenis pohon itu sudah ada di sekitar taman Balai Kota. Selain itu juga di beberapa taman perkotaan arus jalan nasional.
“Ya saat ini kita sedang menirukan taman yang ada di Kota Surabaya. Kan itu bagus ya. Lalu sudah kita terapkan tanam di Balai Kota dan beberapa taman yang diteruskan ke jalan-jalan nasional,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.
Tabebuya atau pohon terompet emas merupakan sejenis tanaman yang berasal dari negara Brazil, dan termasuk jenis pohon besar. Seringkali tanaman ini dikira sebagai tanaman sakura oleh kebanyakan orang, karena bila berbunga bentuknya mirip seperti bunga sakura.
Sedangkan, pulai atau pule adalah nama pohon dengan nama botani Alstonia scholaris. Pohon ini ialah jenis tanaman yang keras dengan hidup di pulau Jaw Adan Sumatra.
Sri menambahkan, pohon tersebut ditanam karena tanaman lain telah rusak, sekaligus memperindah taman. Hal ini dilakukan berdasarkan aturan yang ditetapkan Perda Kota Semarang No 7 tahun 2010 tentang Pentaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
“Selain itu juga ada, Peraturan Daerah Kota Semarang No 8 tahun 2016 tentang pengelolaan pohon pada ruang terbuka hijau publik, jalur hijau, dan taman,” ungkapnya.
Sementara itu, Sub Koordinator Penyelenggaraan Pertamanan, Purwo Setyanto menambahkan, kedua jenis pohon tersebut sudah ditanam sejak 2015. Salah satunya, di Jalan Median Majapahit.
“Kita mulai tanam itu tahun 2015, dan lokasinya pertama kali itu di Jalan Median Majapahit lalu menyebar ke seluruh wilayah jalan di Kota Semarang,” jelasnya.
Ia mengaku, tidak mengetahui secara pasti jumlah pohon yang ditanam. Pasalnya, beberapa dinas lainnya juga melakukan penanaman yang sama.
“Kalau keseluruhan kita tidak tahu soalnya yang nanam itu gak cuman kita (pihak Disperkim, Red.). Yang nanam itu ada yang dari Distaru, dan DPU,” tuturnya.
Dia menjelaskan, tabebuya dan pule biasanya akan berbunga setiap setahun sekali di Bulan Oktober atau November. Adapun resiko yang didapat pada saat penanaman salah satunya, biaya perawatan sangat tinggi.
“Sampai saat ini penanaman pohon besar itu dilakukan sebelum musim hujan, dan resikonya kita dua kali perawatan dan itu biayanya makin tinggi,” imbuhnya. (cr7/mg4)










