Oleh: Sri Rahayu,S.Pd.SD
Guru SD Kayuapu, Kec. Bae, Kab. Kudus
PANDEMI covid-19 beberapa waktu yang lalu, memaksa kita untuk merubah cara belajar siswa. Selama ini yang namanya belajar dan sekolah adalah datang ke kelas lalu bertatap muka. Namun saat itu kondisi memaksa kita untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Meski susah, namun PJJ ternyata telah mendorong guru lebih kreatif ketika menyajikan materi pembelajaran. Kreativitas ini terkadang muncul karena masalah yang ditemui ketika menyampaikan pembelajaran. Salah satunya adalah masalah siswa yang kurang menunjukkan minat pada mata pelajaran tertentu. Metode pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi solusi ketika guru terhambat masalah ini.
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), diferensiasi memiliki arti proses, cara, perbuatan membedakan; pembedaan. Selain itu perkembangan tunggal, kebanyakan dari sederhana ke rumit, dari homogen ke heterogen. Juga proses pembedaan hak dan kewajiban warga masyarakat berdasarkan perbedaan usia, jenis kelamin, dan pekerjaan.
Sementara menurut arti istilah, pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil.
Ciri-ciri atau kerekteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar. Kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan. Kemudian guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.
Menurut Tomlinson (2001:45), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid tersebut. Ide pembelajaran bediferensiasi ini berasal darinya yang pada tahun 1995 dituliskan dalam buku yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classrooms. Idenya ini dikenal dengan nama differentiated instruction atau diterjemahkan menjadi pembelajaran berdiferensiasi.
Ringkasnya, pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan hal-hal berikut. Pertama, kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
Kedua, bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
Ketiga, bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Selanjutnya memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya. Keempat, manajemen kelas yang efektif. Yakni bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, dan metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
Kelima, penilaian berkelanjutan. Yakni bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan. Tujuannya untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.
Keenam, identifikasi. Melakukan identifikasi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan belajar dengan lebih komprehensif, agar dapat merespon dengan lebih tepat kebutuhan belajar murid-muridnya tersebut. Itu artinya, bukan berarti bahwa guru dituntut untuk menjadi “superhero” yang bisa mondar-mandir terbang kesana-kemari demi memenuhi kebutuhan satu-persatu murid dalam satu kelas dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Bukan itu. (*)








