Model PBL Tingkatkan Keterampilan Berpikir HOTS

Oleh: Eti Yuningsih, S.Pd
Guru IPA SMP N 3 Petarukan, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN hendaknya mampu menghasilkan individu yang mampu menghadapi tantangan abad ke-21. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 ditegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Diketahui, kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini masih rendah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menempatkan Indonesia peringkat 110 dari 188 negara. Berdasarkan hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2013, dari 65 negara yang diteliti Indonesia berada di posisi ke-2 dari bawah.

Salah satu permasalahan dalam pendidikan adalah proses pembelajaran yang masih lemah (Direktorat Pembinaan SMA, 2017:1). Tidak semua guru memahami bahwa tujuan utama pembelajaran adalah untuk mengaktifkan potensi siswa.

Mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) di sekolah penulis masih menjadi momok yang te-mindset dengan tidak baik di setiap otak peserta didik. IPA merupakan suatu ilmu yang mempelajari keadaan alam beserta isinya.

IPA bukan hanya penguasaan pengetahuan yang berupa fakta-akta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja. Tapi juga merupakan suatu proses penemuan. Agar pelajaran IPA menarik, maka guru harus menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan minat siswa.

Kurang berhasilnya pembelajaran IPA di sekolah penulis salah satu faktor penyebabnya adalah desain pembelajaran yang dirancang oleh guru kurang mengoptimalkan pengembangan kemampuan peserta didik. Di sekolah, penulis juga mengalami kesulitan untuk mengarahkan peserta didik berani bertanya, menjawab, dan berani maju mempresentasikan hasil karyanya.

Selain itu selama ini penulis masih fokus pada penguasaan pengetahuan kognitif (hafalan materi). Dengan demikian, proses berpikir siswa masih dalam level C1 (mengingat), C2 (memahami), dan C3 (aplikasi).

Guru jarang melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Penulis juga kurang maksimal menggunakan media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kurang menarik dan tidak menyenangkan.

Untuk menghadapi era revolusi industri, siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi. Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi kurikulum saat ini adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/PBL).

PBL merupakan model pembelajaran yang mengedepankan strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Juga untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi yang dipelajarinya.

Dalam PBL siswa dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, PBL membelajarkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Langkah pembelajaran problem based learning adalah sebagai berikut. Pertama, menjelaskan tujuan pembelajaran meliputi menjelaskan logistik yang dibutuhkan dan memotivasi siswa dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. Kedua, membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan permasalahan tersebut.

Ketiga, mendorong siswa dalam mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk penjelasan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah. Keempat, membantu siswa dalam merencanakan serta menyiapkan laporan hasil karya yang sesuai seperti laporan. Guru membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap penyelidikan mereka.

Setelah melaksanakan pembelajaran materi Pencernaan pada Manusia dengan model PBL, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar siswa meningkat lebih bagus dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Penulis sarankan pada rekan-rekan guru mencoba menggunakan model ini untuk pembelajaran lainnya. (*)