Dewan Dorong Peningkatan Pedagogik Guru terhadap ABK

KREATIF: Peserta penyandang disabilitas mempraktikkan cara melukis menggunakan kuas pada kegiatan belajar melukis di Dinas Sosial Prov Jateng, Semarang, bulan lalu. (ANTARA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo menganjurkan adanya peningkatan pedagogik guru terhadap anak berkebutuhan khusus dan anak penyandang disabilitas di lingkup sekolah inklusi. Hal itu perlu dilakukan, seiring perkembangan media sosial yang semakin terbuka di era digitalisasi.

Dirinya menambahkan, saat ini banyak guru baru berasal dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Mereka perlu memenuhi standarisasi kemampuan mengajar secara umum dan khusus kepada siswa penyandang disabilitas di sekolah yang sudah dinyatakan sebagai sekolah inklusi.

Di samping itu, dirinya juga menyayangkan belum adanya lembaga yang bertugas untuk mengasesmen anak berkebutuhan khusus. Padahal secara pembiayaan pendidikan bisa didanai oleh pemerintah.

Baca juga:  Penjualan Barongsai Meningkat 100 Persen

“Dan apakah anak itu ditempatkan di sekolah reguler, SLB, atau inklusi. Jangan sampai anak yang cukup inklusi dia dimasukkan ke sekolah SLB, tentu secara psikologisnya lain lagi,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng di Kantor DPRD Kota Semarang, belum lama ini.

Di sisi lain, ia meminta kepada guru di tiap sekolah untuk selalu memperhatikan setiap individu anak. Tidak hanya pendekatan secara klasikal saja.

“Sekolah ini harus bisa mengajar untuk anak-anak penyandang disabilitas. Mereka ini tidak bisa di split atau dipisahkan sekolah khusus seperti SLB. Karena toh nanti di masyarakat dia harus berbaur dan hidup bersama,” terangnya.

Baca juga:  Pemprov Jateng Kucurkan Dana Hibah Ormas Sebesar Rp 80,5 Miliar

Selain pihak sekolah harus siap memfasilitasi secara akademik, kata Anang, Pemkot Semarang seperti Distaru dan Disperkim juga harus meningkatkan infrastruktur yang mempermudah anak tunanetra menggunakan akses umum. Sebab, yang ada saat ini belum dirasa optimal.

“Saya rasa masih belum optimal. Apalagi akses ke tempat umum seperti masjid kan itu jalannya masih kurang. Jadi kita harus memperhatikan anak-anak berkebutuhan khusus,” ungkapnya.

Dalam menyongsong masa depan anak berkebutuhan khusus yang lebih baik, lanjut Anang, mereka perlu mendapatkan ilmu dan keterampilan yang memadai. Hal itu perlu dilakukan, agar mereka bisa lebih mandiri.

Baca juga:  Unissula Semarang Usulkan Pembebasan PBB bagi Aset PTS

“Pemerintah maupun perusahaan mulai harus memberikan kuota untuk anak difabel dengan adanya lahan pekerjaan untuk mereka. Pada hakikatnya, pendidikan menjadikan anak-anak lebih baik,” pungkasnya. (cr7/mg4)