SEMARANG, Joglo Jateng – Ilustrator Visual asal Jogjakarta, Yehezkiel Cyndo (35) memamerkan 65 sketsa rupa bangunan lawas Pecinan Semarang di Rasa Dharma Lantai 2 Jalan Pinggir No.31, Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah. Selain bangunan lawas, ada juga tempat-tempat kuliner yang sempat ditelurusi, seperti Toko Es Krim Jamu Makuta.
“Sebenarnya berawal dari project gambar sketsa tapi di Malioboro, nah baru buat dua, akhirnya project ini masuk dari komunitas dari Jakarta. Namanya Heritage and Sketch. Pesertanya 61 orang masing-masing buat 60 sketsa tentang budaya,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, Kamis (4/1/24).
Alasan ia memilih Pecinan Semarang, lantaran wilayah pecinan Yogjakarta tidak seluas di Semarang. Hal yang ia suka dari bangunan di Pecinan Semarang, yakni masih bertahannya keaslian dari beberapa bangunan yang ia temui. Menurutnya, seperti bangunan-bangunan tua yang ada di film- film China.
“Menurut saya harus disimpan (keaslian bangunan tuanya, Red.). Karena tidak semua saya sketsa satu per satu karena saya meloncati bangunan yang baru dibangun. Jadi harapannya dari karya ini bisa menyimpan bentuk beberapa bangunan yang masih asli nanti kalau hilang mau dibangun ulang kita masih ada literasi rumahnya seperti ini,” ungkapnya.
Bahkan bangunan yang digambar, kata Cyndo, masih sebagian kecil dari bangunan yang ditemui di Pecinan Semarang. Selain itu, atap-atap kapal di setiap rumah yang melengkung seperti di klenteng. Hal itu membuat esensi dari rumah Tionghoa yang menjadi nilai unggul dari sebuah rumah di Pecinan.
“Karena filosofinya menyerupai lambung kapal yg dipakai orang-orang cina untuk berdagang berlayar termasuk menyebrang dari asalnya sana. Menurut saya masih berharga banget karena filosofinya masih ada,” terangnya.
Tak hanya itu, arsitektur dari Gedung Rasa Dharma yang mewakili kompleks besar dari project sketsa yang ia buat, yang kemudian akhirnya dibawa pulang supaya ada kehadiran kembali ke masyarakat Pecinan. Proses yang ia butuhkan untuk mengerjakan 65 sketsa yaitu dua bulan. Meski begitu, tidak setiap hari ia kerjakan, lantaran ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Prosesnya yang lama karena gambarnya tidak langsung saya lukis di lokasi khusus ilustrasi ini. Hanya foto yang saya pakai referensi untuk ilustrasi saya harus ke sana setiap hari sabtu jam 7 pagi agar menghindari ramai sehingga bisa mengambil angle dengan tepat,” tuturnya.
Adapun hambatan yang ia lalui saat mengerjakan projek sketsa ini di antaranya cuaca ekstrim di Kota Semarang yang membuatnya harus segera kembali ke studio. Sehingga ia harus terburu-buru mengumpulkan data dengan cepat.
Dirinya berharap, dengan adanya pameran ini akan ada narasi untuk melengkapi setiap sketsa yang diperlihatkan kepada pengunjung. Sebab, masih banyak rumah yang mulai ditinggali. (cr7/mg4)










