BANTUL, Joglo Jogja – Salah satu peran penting kader Nahdlatul Ulama (NU) yakni menjadi warna dari perkembangan dan kemajuan bangsa. Dalam rangka memperingati Harlah NU ke-101 ini, kader NU sekaligus Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, berharap NU lebih fokus membangun sumber daya manusia (SDM)
Baginya, darah dagingnya adalah NU. Bukan tanpa alasan, sebab nilai-nilainya sudah tertanam padanya sejak dari kecil. Mulanya dirinya ditempa sebagai kader NU di IPNU, lalu GP Ansor, hingga menjadi Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Bantul.
“Saya terikat secara ideologi, psikologi dan sosial terhadap NU itu cukup kuat. Sehingga, pada posisi saya saat ini sebagai bupati, dalam prosesnya didukung oleh masyarakat Nahdliyin, tentu memiliki tanggung jawab dan support,” ungkapnya.
Menurutnya, gagasan membangun bangsa salah satu nilai yang wajib diemban kader NU adalah membentangi diri dengan ajaran Islam Ahlulsunnah Wal Jamaah. Sebagai suatu mazhab atau pandangan membangun bangsa. Dengan salah satu poin penting yang ditekankan, yakni menghargai pluralitas atau kebinekaan dalam bernegara maupun di lingkungan sosial
“Sebagai kader NU, hal itu harus betul-betul dijaga, jangan sampai ada tindakan-tindakan intoleransi kepada umat yang berbeda agama. Di samping itu, paham atau pemikiran yang bertentangan dengan kehidupan berbangsa juga jangan sampai berkembang,” ujarnya.
Halim bercerita, salah satu paham yang bertentangan itu, misalnya perihal khilafah atau keinginan mendirikan negara khilafah. Paham tersebut bukan hanya bertentangan dengan NU, tapi juga konsensus nasional yang telah disepakati bersama sejak 1945 silam.
Bahkan, di masa kepemimpinannya di Bantul, ia pernah membatalkan kampanye yang mengarah pada paham khilafah itu. Setelah mendengarnya, selaku orang nomor satu di Bantul ini bersama anggota kepolisian, segera mengambil tindakan menghentikan hal tersebut.
“Jadi, hal semacam ini merupakan amanat yang dititipkan kepada saya untuk menjaga kerukunan di masyarakat, khususnya di Bantul. Tentunya kegiatan itu sifatnya non fisik atau materi, tapi tetap menjadi kewajiban kami,” katanya.
Sedangkan, beberapa upaya lain untuk terus mengembangkan moderasi beragam di Bantul juga sering dilakukan. Di antaranya mengumpulkan tokoh-tokoh umat beragama dalam satu forum bersama, untuk menjaga kerukunan umat beragama di wilayahnya.
“Termasuk aktivitas saya berkunjung atau bersilaturahmi ke rumah-rumah ibadah. Kegiatan ini tentunya dalam kerangka membangun persaudaraan antar sesama anak bangsa dan itu amanat NU,” tegasnya.
Sementara itu, di Harlah NU ke-101 ini, baginya merupakan usia dan momen penting untuk terus membangun SDM Nahdliyin. Terutama penguasaan terhadap ilmu pengetahuan non agama dan teknologi yang diperlukan saat ini.
Pengembangan SDM ini bisa dimulai melalui sekolah, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Sekaligus didukung dengan berbagai program seperti kursus, diklat dan sebagainya.
“Hal ini penting, karena kita masih menghadapi problem SDM itu. Sehingga, agar nanti NU dan nahdliyin bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi, kepada kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.(nik/sam)










