SEMARANG, Joglo Jateng – Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Syarifuddin meminta guru bahasa Jawa di Jateng lebih kreatif pada saat mengajar. Menurutnya, ini merupakan upaya untuk merevitalisasi bahasa daerah itu sendiri.
“Sekarang ini dalam Merdeka Belajar, guru diberikan kebebasan bagaimana materi di sekolah diimplementasikan dengan kreativitas, seperti mendongeng, komedi tunggal, menulis cerkak, dan membaca geguritan, dengan menggunakan bahasa daerah. Jadi, penggunaan bahasa daerah tidak hanya sebatas pembelajaran formal, sesuai dengan penerapan Kurikulum Merdeka Belajar,” katanya, belum lama ini.
Hal tersebut disampaikan dihadapan ratusan peserta Bimtek Pengajar Utama Revitalisasi Bahasa Daerah Tingkat SMP di Kantornya Jalan Diponegoro 250, Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (28/2) sore.
Syarifuddin menyebut bahwa pihaknya terus memberikan penguatan dengan mengajak para penutur agar mempunyai sikap positif terhadap bahasa daerahnya. Dirinya mengajak para guru bahasa Jawa untuk lebih menanamkan rasa cinta pada bahasa daerah Provinsi Jateng ini.
“Kalau mengajar pelajaran bahasa daerah memakai bahasa Jawa, di rumah juga dipakai. Bahasa itu, kalau penuturnya tetap menggunakan secara intens, tentu aman. Apalagi kalau dia cinta bahasa Jawa, ya pasti akan menggunakannya,” imbuhnya.
Kata dia, bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Jawa, disampaikan oleh guru untuk diajarkan kepada siswanya di sekolah. Selain itu, guru juga harus mampu mentransmisikan bahasa Jawa kepada keturunannya.
“Kalau mengajar pelajaran bahasa daerah memakai bahasa Jawa, di rumah juga dipakai. Bahasa itu, kalau penuturnya tetap menggunakan secara intens, tentu aman,” tegasnya.
Syarifuddin mengaku bahwa dirinya tetap menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa bugis ketika berkomunikasi dengan keluarga. Termasuk ketika berada di kampung halamannya.
“Itu sebenarnya suatu bentuk pemertahanan bahasa. Satu strateginya, yakni gunakan. Walaupun saya digempur bahasa Jawa, saya setiap berkomunikasi dengan keluarga saya, di kampung halaman, saya selalu menggunakan bahasa ibu,” terangnya.
Syarifuddin menuturkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kekayaan bahasa daerah terbesar kedua di dunia. Yakni 718 bahasa, di bawah Papua Nugini dengan 829 bahasa daerah. (luk/gih)










