IPM Pemalang Terbawah se-Jateng

BERFOTO: Bupati Pemalang Mansur Hidayat saat berswafoto bersama anak-anak sekolah, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Meskipun ada peningkatan, dalam perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) Pemalang pada laman resminya mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Pemalang masih berada di nomor wahid (satu) terbawah se-Jawa Tengah (Jateng) pada 2023 lalu. Di mana belum mampu mengungguli angka kabupaten dalam Karesidenan Pekalongan yaitu Kabupaten Brebes.

Kepala BPS Pemalang Moh. Fatichuddin membeberkan, sejumlah data statistik angka IPM kabupaten/kota se-Jateng dalam laman resmi mereka, tercatat Pemalang masih berada di peringkat IPM terbawah atau ranking 35 dari 35 kabupaten/kota lainnya.

Baca juga:  Belum Cakap Membaca, Bocah Pemalang Usia 6 Tahun Raih Juara I Dai Cilik IGRA 2024

“Angka ini hasil perhitungan kami di 2023 kemarin, walaupun ada peningkatan sejumlah 0,82 persen tapi kabupaten/kota lain naiknya tinggi. Terutama Brebes yang rankingnya hampir sama dengan kita, mereka naik 0,9 persen atau saat ini menjadi 69,71 persen peringkat ke 33 se-Jateng,” tuturnya, Senin (27/5/24).

Hasil perhitungannya selama setahun pada 2023, tercatat dalam tabel di laman https://pemalangkab.bps.go.id/indicator/26/98/1/-metode-baru-indeks-pembangunan-manusia-dan-komponen-penyusunnya.html. Dijelaskannya, ada empat indikator utama penyusun IPM, yaitu angka umur harapan hidup masyarakat, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah dan pengeluaran per kapita masyarakat. Dengan perhitungan itu Pemalang saat ini berada di angka 69,03 persen.

Baca juga:  Gunung Slamet Naik Level II, BPBD Pemalang Lakukan Simulasi Tanggap Bencana

Adapun jika secara statistik, pihaknya menjelaskan Pemkab Pemalang berhasil menaikan angka pada empat indikator itu di tiga tahun terakhir. Namun jumlahnya tidak sebaik pada 35 kabupaten/kota lainnya, sehingga tidak berpengaruh di rangking.

“2023 angka harapan hidup masyarakat Pemalang berada pada 73,85 pertahun, harapan lama sekolah 12,01, rata-rata lama sekolah 6,55 dan pengeluaran perkapita Rp 9.578.000 per tahunnya, atau sekitar Rp 26 ribu per harinya. Itupun tidak naik peringkat,” jelasnya.(fan/sam)