Ketahanan Pangan Ala Pemerintah dan Kesulitan Menjadi Petani

SIAP DIANGKUT: Panen padi di Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, belum lama ini. (ADINDA FATMA FADHILAH/JOGLO JATENG).

Gagal Panen karena Lahan Terendam Banjir

Sementara itu, di wilayah lain, yakni Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, para petani mengalami gagal panen sebab lahan mereka terendam banjir pada Kamis (6/2). Total ada 210,2 hekare lahan. Kerugiannya ditaksir sebesar Rp 1.965.500.000.

Berdasarkan informasi dari Camat Mejobo, Moch Zaenuri, ada empat sungai yang melewati wilayahnya masih belum dinormalisasi. Keempat sungai tersebut meliputi sungai dari Utara Piji, Dawe, Bendo, dan selatan Jeratun. Sungai-sungai ini menjadi penyebab utama banjir yang menggenangi 11 desa di Mejobo.

Zaenuri mengungkapkan, normalisasi sungai telah dijanjikan oleh BBWS Pamali Juwana untuk dilaksanakan pada 2024. Namun, normalisasi ini tertunda karena prioritas penanganan bencana banjir di Kabupaten Demak yang terjadi tahun lalu.

Akibatnya, sungai-sungai di Kecamatan Mejobo tidak terkelola dengan baik, dan kondisi sungai yang dangkal membuat air hujan meluap, menyebabkan tanggul jebol dan air meluber ke permukiman warga.

“Sungai yang dangkal menyebabkan air hujan meluap dan akhirnya jebol, meluber ke pemukiman warga. Kami sudah mengusulkan normalisasi, tapi tertunda karena prioritas penanganan banjir di Demak,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

BERI PENJELASAN: Kepala Bagian Layanan Data dan Informasi Stasiun Iklim BMKG Jawa Tengah, Sulistiyowati memberikan penjelasan mengenai iklim di Jawa Tengah, Senin (10/2). (ADINDA FATMA FADHILAH/JOGLO JATENG).

Di sisi lain, Kepala Bagian Layanan Data dan Informasi Stasiun Iklim BMKG Jawa Tengah, Sulistiyowati menuturkan, perubahan iklim turut menyebabkan kejadian hujan bertambah. Namun, intensitasnya makin banyak. Pada hujan lebat mencapai 51 – 100 mm/hari dan hujan sangat lebat lebih dari 100 mm/hari.

“Dalam satu hari satu jam dua jam itu intensitasnya langsung tinggi. Itu kan sering to. Itu kan sering terjadi,” ujarnya, Senin (10/2).

Berdasarkan Analisis Curah Hujan Dasarian I Februari 2025, beberapa wilayah di antaranya Kab. Pemalang, Kab. Pekalongan, Kota Pekalongan, Batang, Kendal, Kota Semarang, Demak, Kudus, Jepara, sebagian wilayah Kab. Pati, Grobogan, sebagian kecil wilayah Kab. Semarang, Tegal dan Brebes mengalami curah hujan dengan kriteria menengah hingga sangat tinggi. Yakni 51 hingga lebih dari 300 mm dalam 10 hari.

Dalam kondisi ini, menurut Sulis, diperlukan tata kelola wilayah yang ideal agar banyaknya air yang turun tidak menimbulkan bencana.

“Dari tata kelolanya gimana, dari infrastrukturnya gimana. Misalnya tata kelolanya sudah mulai bergeser nanti kalau ada curah hujan tinggi itu dampaknya sudah makin parah. Gitu biasanya,” tutur Sulis.

Selain curah hujan, ia juga menjelaskan dampak perubahan iklim yang mempengaruhi suhu rata-rata bumi. Dirinya menyebut, tahun 2015-2023 menjadi kontur paling panas yang pernah tercatat.

Ia pun menekankan pentingnya konservasi lahan untuk menjaga keseimbangan alam.