“Jika ada perlengkapan yang belum ada di puskesmas, akan kita (Pemprov Jateng) cukupi untuk mendukung program tersebut bermanfaat untuk masyarakat Jawa Tengah,” tegasnya.
Harso mengatakan, selain itu juga ada program dalam upaya menurunkan angka kemiskinan.
“Program menurunkan angka kemiskinan ini kita basisnya perdesa, harapannya selesai semuanya di Jawa Tengah. Jadi kita inventarisir potensi-potensi tiap desa. Mulai dari potensi pariwisata, UMKM, termasuk pelatihan yang mampu mendukung potensi itu apa saja,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, perbaikan layanan dasar akan menjadi fokus perhatiannya pada tahun awal bekerja.
Di antaranya, perbaikan infrastruktur jalan, pendidikan, pertanian, dan sumber daya manusia (SDM).
Hal tersebut terangkum dalam 11 Program Prioritas Gubernur yang meliputi ekonomi, Infrastruktur, kesejahteraan rakyat, serta hukum dan pemerintahan.
“Layanan dasar yang harus dibenahi adalah infrastruktur jalan dan perbaikan gedung sekolah. Selain itu, pentingnya pembenahan infrastruktur pertanian untuk mencapai swasembada pangan dan pembangunan SDM,” terang Gubernur Jateng Ahmad luthfi belum lama ini.
Ia menambahkan, Pemprov Jateng memiliki pekerjaan rumah (PR) yang banyak.
Beberapa diantaranya aspek pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, pengentasan kemiskinan, peningkatan ekonomi, dan penguatan pelayanan publik.
Disamping itu, persoalan utama yang harus ditanggulangi adalah kemiskinan.
Menurut data, tingkat kemiskinan pada September 2024 sebesar 9,58 persen atau 3,4 juta jiwa.
Program yang akan digencarkan adalah pembenahan di bidang pendidikan yang diintegrasikan dengan program pusat, perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), infrastruktur jalan,
Untuk jalan, menurutnya, harus segera ada akselerasi, mengingat Jawa Tengah menjadi salah satu tujuan mudik. Karenanya, Luthfi menginstruksikan OPD terkait segera melakukan akselerasi.
Selain itu, ia akan menggandeng Pemkab dan Pemkot, untuk memastikan kondisi antara jalan nasional, provinsi, dan kabupaten /kota, berkesinambungan dan dalam kondisi mantap.
“Jalan mudik lebaran, jalan kita mulai dari Brebes, kalau mudik nasional kan sudah ada tol. Tetapi aglomerasi eks karesidenan kita maksimalkan. Misal Eks Karesidenan Pekalongan, Eks Karesidenan Semarang, Eks Karesidenan Solo itu Solo dan sekitarnya, harus maksimal, agar mudik tak hanya mudik nasional juga mudik regional,” ujarnya. (all/sam).










