Oleh karena itu, dirinya menekankan kepada aparat kepolisian untuk menghendaki adanya reformasi kepolisian. Menurutnya, selama ini mereka bekerja jauh dari keinginan atau tuntutan masyarakat sipil.
“Lebih dari itu, justru mereka memanfaatkan masyarakat kita untuk menjadi objek penindasan. Jadi kita ingin melakukan reformasi besar-besaran bahkan kalau perlu mengganti seluruh personil yang hari ini aktif untuk kemudian dilakukan satu rekrutmen ulang dengan cara rekrutmen yang sehat, tanpa tanpa pungli tanpa sogok dan lain sebagainya,” tegasnya.
Bahkan, dalam proses rekruitmen calon anggota polri, lanjut Munif, masih ditemukan kecurigaan dan masalah. Sehingga perlu didiskusikan ulang mengenai fungsi, tugas, wewenang aparat keamanan.
“Sehingga dia (polisi, Red.) tidak sampai mencampuri kepentingan atau proses hidup masyarakat sipil,” ujarnya.
Dengan adanya aksi ini, Aksi Kamisan Semarang masih terus mengakat kasus penembakan Gamma, sampai Robig ditahan di jeruji besi sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Kita ingin mengangkat kasus ini untuk tetap menjadi perhatian publik supaya pengadilan tahu bahwa publik atau masyarakat mengawasi proses persidangan,” pungkasnya.
Sebagai informasi, selain menyuarakan kasus penembakan Gamma, Aksi Kamisan juga mengkritik berbagai kasus lainnya yang menyangkut soal aparat keamanan. Seperti kasus kekerasan petugas protokol Kapolri RI terhadap seorang jurnalis foto dan kasus pembunuhan bayi berusia dua bulan oleh ayah kandung sekaligus oknum polisi, Bripda AK. (int/adf)










