Terpisah, Ketua Panitia Paskah Kota Semarang 2025, Romo Eduardus Didik Chahyono SJ menyampaikan, visualisasi ini sebuah representasi dari kisah kebangkitan Kristus, yang tentu tidak terjadi tanpa adanya peristiwa salib.
“Maka peristiwa salib ini menjadi peristiwa bagaimana Tuhan menunjukkan cintanya kepada manusia. Sehingga ia mengorbankan dirinya agar manusia mengalami keselamatan. Kemudian yang di visualisasi dan salib ini dari pengadilan Yesus di hadapan Pontius Pilatus sampai nanti ada peristiwa penyaliban,” terangnya.
Dirinya menuturkan, bahwasanya Perayaan Paskah Kota Semarang ini secara publik itu sudah diselenggarakan sejak tahun 2016. Namun terhenti, karena ada pandemi covid-19, serta adanya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
“Pada tahun 2025 ini kami bersyukur ketika semuanya bisa kembali dilaksanakan. Sehingga kami berterima kasih kepada Pemkot Semarang dan masyarakat yang begitu toleran dan bersahabat,” lanjutnya.
Dirinya berharap, dengan adanya perayaan ini, semakin bisa menunjukkan secara nyata bahwa Kota Semarang merupakan kota yang toleran. Selain itu, juga meningkatnya sinergitas, antara pemerintah, dan masyarakat, khususnya umat Kristiani bisa berjalan dengan baik.
Sebagai informasi, Visualisasi Jalan Salib merupakan kegiatan visual yang menceritakan kisah sengsara dan wafatnya Yesus Kristus. Prosesi ini dilakukan dalam rangka merayakan Tri Hari Suci Paskah, khususnya pada hari Jumat Agung. (int/adf)










