
Museum Masjid Agung Demak yang berlokasi di sebelah utara Masjid Agung Demak menyimpan banyak koleksi benda-benda bersejarah, mulai dari saka guru asli peninggalan Walisongo hingga manuskrip mushaf Al-Qur’an tulis tangan.
Tercatat terdapat 18 item manuskrip, yang mana 14 di antaranya adalah naskah Al-Qur’an. Salah satu koleksi manuskrip mushaf Al-Qur’an yang menonjol ialah Naskah Al-Qur’an 9, yang memiliki nilai historis dan keistimewaan dalam objek kajian filologi.
Deskripsi Fisik dan Karakteristik Manuskrip Naskah Al-Qur’an 9
Manuskrip mushaf yang memiliki nama Naskah Al-Qur’an 9 dalam koleksi Museum Masjid Agung Demak ini memiliki nomor kodeks DK-MAD/MMAD.9/AQ/2023.
Manuskrip ini ditemukan keberadaannya di lantai 2 Masjid Agung Demak ketika proses renovasi masjid, yang diperkirakan pada tahun 1982 M. Dari banyaknya manuskrip mushaf yang ditemukan, hanya ada beberapa mushaf yang memiliki catatan kecil berisi nama pemilik yang diselipkan pada mushaf.
Salah satunya ialah Naskah Al-Qur’an 9 ini. Catatan tersebut bertuliskan “Punika Qur’an kagunganipun Raden Ayu …dirja tahun Welandi 1783. Kaparingake Rahaden Bagus Prawata. Nalika dipunparingake tahun Welandi [?].” dengan aksara Jawa.

Naskah Al-Qur’an 9 ini memiliki ukuran 33 x 20,5 cm dengan alas kertas Eropa ber-watermark Pro Patria yang berasal dari Belanda. Sampulnya terbuat dari kulit dan masih utuh, namun diperkirakan sampul tersebut baru ditambahkan belakangan (sampul baru).
Kondisi naskah ada sebagian yang hilang, terlepas dari jilidan, dan bergeripis. Beberapa halaman tersusun tidak urut, namun masih dapat terbaca dengan baik.
Terdapat dua warna tinta yang digunakan dalam penulisan mushaf, yakni hitam dan merah.
Tinta hitam digunakan untuk dominasi warna tulisan, sedangkan tinta merah digunakan untuk tulisan kepala surah, permulaan juz, tanda tajwid, catatan pias, dan lingkaran akhir ayat yang tidak bernomor.
Adapun dalam Manuskrip Naskah Al-Qur’an 9 ini juga terdapat iluminasi di beberapa tempat seperti pada Surah Al-Fātiḥah dan Al-Kahfi. Pada akhir halaman manuskrip, tepatnya Surah An-Naṣr dan Al-Lahab, juga terdapat iluminasi namun tanpa warna.
Iluminasi dalam mushaf ini bermotif flora indah dengan perpaduan warna biru, hijau, kuning, merah, dan emas yang semakin menambah nilai estetika.
Kaidah Rasm Surah Al-Fātiḥah dalam Manuskrip Naskah Al-Qur’an 9
Dalam manuskrip mushaf 9 ini, sekilas ada beberapa penyusunan yang unik, khususnya pada Surah Al-Fātiḥah, di antaranya yakni adanya 9 lingkaran yang biasa dikenal sebagai tanda ayat. Yang pada Al-Qur’an umumnya jumlah ayat Surah Al-Fātiḥah terdapat hanya 7 ayat.
Di mushaf ini terlihat 2 penambahan setelah lafaz أنعمت عليهم dan setelah lafaz آمين. Tentu hal ini menjadi menarik untuk diketahui lebih dalam, baik dari rasm maupun qirā’at-nya.
Rasm yang digunakan tampaknya mengikuti Rasm Utsmānī klasik (bukan rasm imlā’ī modern), yang ditandai dengan:
Penghilangan beberapa huruf atau perubahan struktur kata dari standar modern.
Penulisan huruf-huruf dengan bentuk khas kaligrafi kuno.
Mari kita analisis kata per kata Surah Al-Fātiḥah berdasarkan gambar Mushaf 9 tersebut, dengan fokus pada bentuk penulisan (rasm):
Ayat pertama, بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: بِسْمِ ditulis tanpa alif setelah bā’, sesuai dengan rasm Utsmānī: بسم, bukan باسم. Ini merupakan ciri khas mushaf klasik. الرَّحْمٰنِ, alif-nya ditulis dengan alif khanjariyyah kecil di atas mīm, bukan ditulis penuh. Ini sesuai standar rasm Utsmānī.
Ayat kedua, الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ: ditulis secara lengkap, tidak ada penyimpangan kaidah rasm, tidak diberlakukan ḥadhf alif karena disesuaikan untuk membantu pembaca awam.
Ayat ketiga, الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: penulisan seperti sebelumnya, dengan perhatian pada alif khanjariyyah dalam الرَّحْمٰنِ.
Ayat keempat, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ: ada dua qirā’at terkenal: Malik dan Mālik. Di mushaf ini ditulis dengan alif, menunjukkan bacaan Mālik. Bacaan semacam ini memang tidak seperti kaidah rasm Utsmānī pada umumnya, namun dalam sebagian mushaf, terutama yang dicetak berdasarkan qirā’ah tertentu (misalnya Hafṣ dari ‘Āṣim atau Warsh dari Nāfi‘), penulisan bisa disesuaikan untuk membantu pembaca awam, meskipun rasm dasarnya tetap Utsmānī.
Ayat kelima, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ: ditulis secara lengkap, tidak ada penyimpangan kaidah rasm.
Ayat keenam, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ: huruf ṣād dengan tasydid—penulisan bisa memakai ṣirāṭ atau kadang dengan sīn dalam beberapa qirā’at (qirā’at Warsh).
Ayat ketujuh, صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ: ditulis secara lengkap, tidak ada penyimpangan kaidah rasm. غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ: ditulis secara lengkap, tidak ada penyimpangan kaidah rasm.








