Opini  

Tak Perlu Menunggu Kaya untuk Bahagia

Retno Widianto, Mahasiswa, Pemerhati Psikologi Positif.

DI tengah segala kesibukan dan tekanan hidup yang makin hari makin nyata, banyak dari kita merasa sulit menemukan waktu untuk sekadar merasa tenang, apalagi bahagia.

Harga bahan pokok naik, biaya hidup dan kesehatan tak bisa ditawar, cicilan menumpuk, sementara media sosial terus menyuguhkan kehidupan orang lain yang tampak sangat indah, lebih mapan, lebih bahagia, dan lebih sukses. Dalam kondisi seperti ini, apakah kita masih bisa membicarakan kebahagiaan?

Marilah kita membahas apa itu kebahagiaan. Kebahagiaan, dalam pemahaman masyarakat awam, sering kali dikaitkan dengan keadaan “ideal”, ketika semua masalah hidup selesai, semua kebutuhan tercukupi, dan semua impian tercapai.

Tapi jika kita menunggu semua itu terpenuhi untuk merasa bahagia, bisa jadi kita akan terus menunda kebahagiaan sampai akhir hayat.

Padahal, menurut ilmu psikologi, kebahagiaan bukan sesuatu yang ditunggu. Ia bisa dilatih dan dibentuk, bahkan dalam kondisi yang tidak ideal sekalipun.

Psikolog Ed Diener menyebut kebahagiaan sebagai subjective well-being, suatu keadaan di mana seseorang merasakan emosi positif, minim emosi negatif, dan memiliki kepuasan terhadap hidupnya secara umum.

Martin Seligman, tokoh psikologi positif, menyebut bahwa kebahagiaan bukan cuma soal senang atau tidak, tapi juga tentang memiliki hubungan yang sehat, makna dalam hidup, keterlibatan dalam aktivitas, serta pencapaian diri yang ia rangkum dalam model PERMA: Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment (Emosi Positif, Keterlibatan, Hubungan Positif, Makna Hidup, dan Pencapaian).

Di sinilah menariknya, kebahagiaan bukan sesuatu yang harus besar dan spektakuler. Ia bisa tumbuh dari hal-hal kecil, sederhana, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bahagia di Tengah Tekanan

Kita tahu, hidup masyarakat hari ini tidak mudah. Banyak keluarga di desa maupun kota yang harus bertahan dengan penghasilan pas-pasan.

Buruh harian, pedagang kecil, guru honorer, hingga ojek online, semua berjuang dengan tantangan masing-masing. Lalu, apakah mereka semua mustahil untuk bahagia?

Ternyata tidak. Penelitian Sonja Lyubomirsky dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa sekitar 40% kebahagiaan berasal dari aktivitas yang disengaja seperti pola pikir, kebiasaan harian, dan cara merespons masalah.

Sementara 50% dipengaruhi oleh faktor genetik, dan hanya 10% oleh kondisi kehidupan seperti kekayaan atau status sosial.

Artinya, meski kita tak bisa memilih lahir di keluarga kaya atau miskin, kita tetap bisa memilih sikap dan kebiasaan yang membuat hidup lebih bahagia.

Latihan Sederhana yang Berdampak Besar

Ada beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk membentuk kebahagiaan.

Pertama, latihan bersyukur. Setiap hari, luangkan waktu sejenak untuk mengingat hal-hal baik yang kita miliki, meskipun kecil.

Misalnya: anak yang sehat, pekerjaan yang halal, atau bahkan udara pagi yang segar. Riset menunjukkan bahwa orang yang membiasakan diri bersyukur lebih jarang merasa stres dan lebih mudah merasa puas.

Kedua, jaga hubungan sosial. Hubungan yang hangat dan saling mendukung, misalnya dengan pasangan, anak, tetangga, atau sahabat, merupakan sumber kebahagiaan yang sangat kuat.

Seligman menyebut relasi sebagai salah satu pilar utama dalam kebahagiaan. Dalam budaya kita, gotong royong dan kerukunan adalah warisan yang sangat mendukung ini.

Ketiga, lakukan hal bermakna. Apa pun pekerjaan kita, jika dijalani dengan sepenuh hati dan dirasakan manfaatnya untuk orang lain, akan memunculkan perasaan bangga dan puas.

Ibu rumah tangga yang merawat keluarga, petani yang menanam padi, guru yang mendidik anak bangsa itu semua punya potensi bahagia jika menyadari maknanya.

Keempat, gerakkan tubuh dan tenangkan pikiran. Olahraga ringan seperti jalan pagi atau senam bersama ibu-ibu di kampung bisa meningkatkan hormon bahagia.

Sementara latihan pernapasan atau meditasi sederhana dapat membantu menenangkan pikiran yang penat.