Jika ada yang menderita HIV/AIDS, treatmen yang harus dijalani adalah dengan terapi antivirus,pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik serta meningkatkan daya tahan tubuh. “Justru yang paling ditakutkan itu penyakit oportunistiknya menular ke orang lain,” kata dr Chaty.
Ia pun meminta kepada mastarakat agar tak panik jika ada yang terkena HIV/AIDS. Karena penyakit tersebut tak serta merta bisa menular kepada orang lain. Namun yang perlu diwaspadai adalah penyakit oportunistiknya HIV/AIDS yang diderita seperti TBC, penyakit kulit, diare dan lainnya yang dapat dengan mudah menular.
Katharina menegaskan, penularan HIV/AIDS bisa terjadi jika ada empat hal. Pertama, harus ada virus yang keluar dari penderita HIV+ melalui cairan tubuh. Kedua, jumlah virusnya mencukupi untuk menginfeksi. Lalu ketiga, virusnya hidup dan keempat, harus ada pintu masuk ke tubuh, misalnya adanya luka.
“Harus ada empat hal itu, salah satu tidak terpenuhi, HIV tidak akan menular. Dari sejak terinfeksi, ada namanya window period, biasanya akan kami cek berkala 3 sampai 12 minggu. Jika terinfeksi, bisa diobati untuk menghambat virus. Tetapi pasien harus seumur hidup mengonsumsi obat,” tutup dr Katharina. (mrn/rds)










