Kudus  

SMA N 1 Gebog Raih Adiwiyata Provinsi

PANTAU: Dua guru SMA N 1 Gebog tengah memantau kolam ikan yang ada di sekolah sebagai penunjang Adiwiyata Provinsi, Selasa (22/7/25). (KHAYYA SA’ADATUN NURIS SUROYYA/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – SMA N 1 Gebog kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Dengan meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata, tingkat Provinsi Jawa Tengah. Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam mewujudkan lingkungan belajar yang sehat, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kepala SMA N 1 Gebog, Sukarno menyebutkan, penghargaan tersebut sebenarnya telah diperoleh sejak 2024. Namun diperpanjang pada 2025. Karena sekolah terus melakukan peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendukung gerakan Adiwiyata.

“Salah satunya adalah pembangunan ruang kelas baru yang ramah lingkungan dan sesuai standar. Pencapaian ini tidak lepas dari keseriusan seluruh elemen sekolah, dalam memenuhi indikator Adiwiyata. Mulai dari penyediaan sarana pendukung,” ungkapnya.

Adapun inovasi yang dilakukan, seperti kantin sehat. Lahan hidroponik untuk budidaya sayuran. Hingga sistem pengelolaan sampah terintegrasi. Setiap kelas dilengkapi tiga tempat sampah, dengan fungsi berbeda. Organik. Anorganik dan B3.

“Di lapangan sekolah pun tersedia kotak khusus. Untuk mengumpulkan limbah plastik, yang nantinya didaur ulang. Selain itu, kami juga menginisiasi program biopori. Sebagai upaya konservasi air dan pencegahan banjir,” ujarnya.

Resapan air diperluas di beberapa titik halaman sekolah. Untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Kampanye hemat energi juga aktif dilakukan. Melalui penempelan stiker-stiker pengingat. Seperti ‘matikan jika tidak perlu’, di ruang kelas dan fasilitas umum.

“Untuk dapat melaju ke tingkat nasional, kami tengah mematangkan berbagai aspek. Baik fisik maupun partisipatif. Salah satu kunci suksesnya adalah, sinergi antara warga sekolah dan pihak eksternal,” imbuhnya.

Pihaknya juga menjalin kolaborasi, dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kudus untuk pengawalan dan pendampingan program Adiwiyata. Partisipasi aktif seluruh siswa. Guru. Hingga tenaga kependidikan menjadi kekuatan utama.

“Keberhasilan ini menjadi bukti. Pelestarian lingkungan bisa dimulai dari satuan pendidikan. Kami tidak hanya mencetak siswa berprestasi. Tetapi juga mencetak generasi. Yang sadar akan pentingnya menjaga bumi untuk masa depan,” tandasnya. (cr9/fat)