KENDAL, Joglo Jateng – Kasus pembunuhan terhadap seorang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Weleri, Kendal, beberapa waktu lalu, memunculkan sorotan terhadap maraknya keberadaan ODGJ di berbagai wilayah Kabupaten Kendal.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kendal, Muntoha mengakui ODGJ kerap ditemui di berbagai sudut kota, bukan hanya di Weleri.
“Sebenarnya tidak hanya di Weleri, di lokasi lain juga banyak,” ujarnya melalui sambungan telepon, belum lama ini.
Menurut Muntoha, pihaknya bersama Satpol PP telah berkali-kali mengamankan ODGJ yang berkeliaran. Namun, upaya itu terkendala karena para ODGJ sering berpindah lokasi.
“Satpol PP yang menangani di lapangan, sementara tugas kami memberikan pembinaan di shelter Dinsos. Kesulitannya, mereka selalu berpindah-pindah,” jelasnya.
ODGJ yang pernah ditangani Dinsos terbagi dua kategori, yakni yang masih memiliki keluarga dan yang tidak beridentitas. Bagi yang ada keluarganya, pembinaan dilakukan di shelter sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ), lalu dikembalikan ke keluarga. Sementara ODGJ tanpa identitas, pembinaan dilakukan di shelter hingga ada keputusan lebih lanjut.
“Keluarga sebenarnya adalah tempat terbaik untuk mereka kembali, tentu setelah mendapat perawatan di RSJ,” kata Muntoha.
Sebelumnya, Muhammad Hariz, warga Weleri, ditangkap polisi usai menikam seorang ODGJ hingga tewas. Ia mengaku kesal melihat maraknya ODGJ berkeliaran di wilayahnya.
“Saya muak melihat banyak ODGJ di Weleri. Waktu itu saya bertemu dan langsung saya bunuh,” ungkapnya.
Kasi Humas Polres Kendal, AKP Rasban, menyatakan pelaku kini mendekam di sel tahanan dan dijerat Pasal 351 ayat (3) subsider Pasal 338 KUHP dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. (ags/adf)










