SEMARANG, Joglo Jateng – Warga Dusun Karang, Desa Tegaron, melaksanakan tradisi Nyadran di halaman Masjid Al-Falah dengan penuh kekhidmatan.
Kegiatan yang diikuti ratusan warga ini berlangsung meriah sekaligus khidmat, menampilkan perpaduan nilai religius dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi Nyadran diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.
Doa dipanjatkan untuk keselamatan dan keberkahan warga, sekaligus mendoakan arwah para leluhur.
Seusai doa, warga melanjutkan dengan kenduri, yaitu makan bersama di halaman masjid.
Hidangan yang disajikan berasal dari makanan yang dibawa masing-masing keluarga, seperti nasi berkat, ayam ingkung, sayur lodeh, tempe bacem, serta aneka jajanan tradisional.
Suasana hangat dan penuh keakraban tampak ketika warga duduk bersila di atas tikar panjang, saling berbagi makanan dan cerita.
Menurut penuturan salah satu tokoh masyarakat, tradisi Nyadran tidak hanya bermakna sebagai acara doa bersama, tetapi juga sebagai sarana memperkuat persaudaraan.
Nilai gotong royong sangat terasa, sebab semua lapisan masyarakat ikut terlibat: ibu-ibu menyiapkan masakan, para pemuda membantu penataan tempat, sementara tokoh agama memimpin doa serta memberikan nasihat.
Hal ini menunjukkan bahwa Nyadran bukan hanya sekadar ritual tahunan, melainkan wadah menjaga ikatan sosial di tengah masyarakat.
Masyarakat Dusun Karang juga menamai Nyadran ini sebagai bentuk ungkapan syukur kepada alam, khususnya atas kelimpahan sumber air yang menjadi penopang kehidupan sehari-hari.
Pada Nyadran kali ini, rasa syukur tersebut ditujukan atas melimpahnya ruahan sumber air yang ada di wilayah Desa Tegaron.
Hal ini menjadi bukti kuat bahwa tradisi tidak hanya berkaitan dengan doa dan kenduri, tetapi juga menyatu dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga alam sebagai anugerah Tuhan.
Selain menjadi ajang silaturahmi, tradisi Nyadran juga mengandung makna filosofis yang mendalam.
Kata “Nyadran” berasal dari istilah sraddha dalam bahasa Sanskerta yang berarti keyakinan atau penghormatan.
Pada mulanya, Nyadran dilakukan untuk mengenang jasa leluhur, lalu berkembang menjadi tradisi yang dipadukan dengan nilai Islam berupa doa bersama, tahlil, dan sedekah makanan.
Dengan demikian, Nyadran melambangkan hubungan harmonis antara manusia dengan Allah SWT, dengan sesama, serta dengan alam sekitar.
Suasana meriah juga tampak dari keterlibatan lintas generasi. Anak-anak, remaja, hingga orang tua semua hadir dalam kegiatan ini.
Masjid Al-Falah pun tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan kegiatan sosial masyarakat.
Tradisi yang sudah berlangsung lama ini diharapkan tetap lestari sebagai warisan budaya yang memiliki nilai luhur bagi generasi mendatang.
Dengan terselenggaranya Nyadran pada 14 Agustus 2025, warga Dusun Karang, Desa Tegaron, kembali meneguhkan jati diri sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, dan kepedulian terhadap alam.
Tradisi ini menjadi pengingat penting bahwa kebudayaan lokal bukan hanya sekadar peninggalan leluhur, tetapi juga sarana memperkuat persatuan serta menjaga keseimbangan dengan alam di tengah kehidupan modern.










