Demak  

Sekolah di Demak Wajib Peduli Lingkungan, DLH Dorong Jadi Adiwiyata Mandiri

‎PLT Sekretaris DLH Demak, Sudarwanto. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

‎Selain itu, sekolah juga dituntut memiliki program konservasi air, energi, serta pengelolaan ruang terbuka hijau. Sudarwanto mencontohkan, air wudhu di sekolah bisa dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman. Begitu juga dengan sumur resapan atau kolam retensi yang bisa menunjang konservasi air.

‎Tidak kalah penting adalah pengelolaan sampah. Menurutnya, rata-rata sekolah menghasilkan 0,5–0,6 kilogram sampah per hari per orang. Oleh karena itu, sekolah perlu memiliki bank sampah pengolahan sampah organik, serta kebijakan pengurangan plastik.

‎“Di kantin sekolah sebaiknya tidak ada sedotan plastik, botol sekali pakai, atau kemasan yang menambah limbah. Siswa bisa membawa tempat makan dan minum sendiri. Ini bagian dari budaya ramah lingkungan,” tegasnya.

‎DLH Demak berharap, melalui penerapan Adiwiyata, sekolah dapat melahirkan generasi yang sadar lingkungan.

‎“Intinya, peduli dan berbudaya lingkungan itu harus jadi kebiasaan, bukan sekadar program sesaat,” pungkasnya. (adm).