JEPARA, Joglo Jateng– Seni ukir Jepara yang kini terancam kelestariannya terus diperjuangkan agar mendapatkan pengakuan dunia. Salah satunya melalui upaya pencatatan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) UNESCO.
Predikat Jepara sebagai The World Carving Center bukan sekadar slogan. Perlu dukungan semua pihak agar seni ukir benar-benar diakui dunia. Dukungan itu datang dari Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie), saat menghadiri Seminar Pelestarian Ukir di Gedung Shima Jepara, Kamis (11/9/2025).
Menurutnya, seni ukir Jepara adalah kekayaan intelektual warisan leluhur yang harus dilestarikan. Proses administratif pengajuan ke UNESCO membutuhkan dukungan masyarakat, komunitas, hingga pemerintah daerah.
“Ukiran Jepara bukan hanya karya seni, tapi mahakarya. Kita perlu semua pihak untuk mendorong proses ini,” kata Rerie.
Pengajuan ini akan dilakukan melalui mekanisme join nomination dengan Pemerintah Kota Konjic, Bosnia-Herzegovina. Pemerintah Indonesia pun disebut terus menjalin komunikasi dengan negara tersebut.
Rerie sangat berharap, dukungan semua pihak dapat terus diwujudkan, sehingga kearifan lokal masyarakat berupa seni ukir Jepara tetap lestari dan segera diakui sebagai WBTB dunia.
“Pemerintah Indonesia terus menjalin komunikasi dengan Bosnia-Herzegovina, untuk menjadikan ukiran Jepara sebagai WBTB dari UNESCO,”terangnya.
Bupati Jepara H. Witiarso Utomo (Mas Wiwit) terus memperjuangkan ukiran Jepara sebagai WBTB dari UNESCO dengan meminta bantuan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.
“Seni ukir dari Jepara merupakan bukti kekayaan warisan leluhur bangsa, sehingga kami berupaya mendapatkan WBTB UNESCO, selain itu juga terus mengenalkan karya ukir Jepara ke seluruh penjuru dunia,” kata Mas Wiwit.
Oleh sebab itu, lanjut Mas Wiwit, terkait pencatatan WBTB karya ukir Jepara nantinya akan dilakukan join nomination dengan negara tersebut. Istilah ini dalam konteks UNESCO merujuk pada pencalonan suatu warisan budaya atau alam untuk masuk dalam daftar Warisan Dunia oleh lebih dari satu negara.
Proses pengusulan Warisan Budaya Takbenda maupun warisan benda untuk menjadi warisan budaya yang diakui oleh UNESCO bukanlah perkara yang mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa dilakukan.
“Terkait persiapannya, Pemkab Jepara akan dibantu oleh Bu Rerie. Yang jelas Bu Rerie sudah menyiapkan naskah akademik dan bahan lainnya termasuk nanti pengusulan ke UNESCO,”jelasnya.
Mas Wiwit juga menegaskan komitmennya membentuk pasar ukir di dua tempat pada 2026, Desa Mulyoharjo dan Desa Tahunan. Langkah ini tidak hanya sebatas ceremonial, tetapi akan memberi dampak ekonomi bagi perajin ukir Jepara.










